Juli 2026: Neraca Perdagangan Surplus Ditopang Ekspor Nonmigas
Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 kembali mencatat surplus, terutama didorong oleh kinerja ekspor nonmigas. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus kumulatif Januari–Juli 2026 sebesar USD3,70 miliar, dengan surplus bulanan pada Juli mencapai USD120 juta.
Ringkasan data utama
Pada Juli 2026 neraca perdagangan kembali surplus setelah pada Juni tercatat defisit USD140 juta. Secara kumulatif, surplus perdagangan nonmigas menjadi penopang utama, sementara sektor migas masih mencatat defisit.
Kontribusi nonmigas dan migas
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa kinerja nonmigas sangat menentukan posisi neraca perdagangan.
"Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan masih ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang surplus sebesar USD22,45 miliar. Sedangkan perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD18,75 miliar,"
Performa ekspor dan impor
Nilai ekspor Januari–Juli 2026 tercatat USD167,03 miliar, naik 4,43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor pada periode yang sama mencapai USD163,33 miliar, meningkat 19,94%.
Komponen terbesar impor adalah impor bahan baku/penolong dengan nilai USD116,70 miliar, naik 20,42%. Impor barang modal dan barang konsumsi juga melonjak, masing-masing naik sekitar 20% dan 16,03%.
Komoditas penyumbang surplus
Kontributor utama surplus perdagangan nonmigas berasal dari sektor lemak dan minyak hewani/nabati. Kontribusi surplus dari komoditas ini mencapai USD20,96 miliar.
- Bahan utama: lemak dan minyak hewani/nabati — surplus terbesar
- Komoditas lain penyumbang surplus: bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta alas kaki
Perdagangan dengan negara mitra
Sepanjang Januari–Juli 2026, Indonesia membukukan surplus terbesar perdagangan dengan Amerika Serikat, serta surplus dengan India dan Filipina. Sementara itu, defisit terbesar tercatat terhadap Tiongkok, diikuti Singapura dan Australia.
- Surplus terbesar: Amerika Serikat — USD10,48 miliar
- Defisit terbesar: Tiongkok — USD16,94 miliar
Implikasi dan prospek
Surplus yang bertumpu pada nonmigas mencerminkan ketergantungan pada komoditas unggulan, sementara kenaikan impor bahan baku menunjukkan kebutuhan input industri yang meningkat. Perkembangan harga komoditas global dan permintaan pasar ekspor akan menentukan arah neraca perdagangan ke depan.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu memantau neraca impor bahan baku dan mendorong nilai tambah industri agar surplus perdagangan lebih berkelanjutan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Yellow Stone Management Perkuat Jaringan Bisnis di Indonesia
Yellow Stone Management memperluas operasi ke Indonesia untuk memperkuat konektivitas bisnis dan membuka pel...
J&T Express Olah 146 Kg Seragam Bekas Jadi Produk Baru
J&T Express mengolah 146 kg seragam kurir menjadi produk baru lewat J&T SIP, mengurangi limbah dan menghinda...
Harga Emas Pegadaian Naik Akhir Pekan: Galeri24 & UBS 12 Sep 2026
Harga emas Galeri24 naik Rp5.000/gram dan UBS naik Rp1.000/gram di Pegadaian pada Sabtu, 12 September 2026,...
Multi Power Aditama Perkuat Layanan Pelanggan Lewat Pilihan Produk
Multi Power Aditama tawarkan produk dari segmen ekonomi hingga premium dan perkuat layanan purna jual untuk...
Harga Emas Antam Naik Rp4.000 per Gram, Ini Rinciannya
Harga emas Antam naik Rp4.000/gram pada 12 September 2026; 1 gram kini Rp2.604.000 dengan buyback Rp2.600.00...
TPS3R Guwosari Kelola 4,5 Ton Sampah dan Serap 27 Pekerja
TPS3R Guwosari mengelola 4,5 ton sampah per hari dan menyerap 27 pekerja lewat program Go Sari yang dibina P...