Politik

Sri Untari Ajak Warga Malang Pilah Sampah dari Rumah

Bagikan:
Sosialisasi pemilahan sampah di Malang oleh Sri Untari untuk warga dan ibu rumah tangga

Malang — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menggelar sosialisasi pengolahan limbah domestik selama sepekan di wilayah Malang pada akhir Oktober hingga 2 November 2026. Kegiatan yang menutup rangkaian di Kecamatan Blimbing dan Sukun itu bertujuan mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah agar limbah menjadi produk bernilai ekonomi dan mengurangi beban pengelolaan kota.

Warga mulai memilah dari rumah

Peserta sosialisasi, terutama ibu rumah tangga, melaporkan perubahan sikap terhadap sampah. Mereka kini berkomitmen menjadi penggerak pemilahan di lingkungan masing-masing.

Salah satu peserta, Nurul Setiowati, mengatakan sosialisasi membuka perspektif baru. Selama ini warga menganggap sampah urusan petugas kebersihan, padahal pemilahan sejak rumah dapat mengurangi volume yang harus diproses daerah.

"Kebanyakan kita itu menganggap sampah ya sudah urusan petugas sampah, kan sudah bayar. Tapi setelah dengar penjelasan Bu Sri Untari, kami baru paham bahwa dengan alat sederhana, sampah organik dan anorganik itu kalau dipilah justru bisa jadi aset bernilai ekonomi,"

Contoh produk hasil pengolahan

Dalam kegiatan itu warga diperkenalkan pada konsep zero waste dan sejumlah produk hasil pengolahan limbah rumah tangga. Alat dan teknik sederhana ditunjukkan agar bisa diaplikasikan di tiap rumah.

  • Eco-enzyme untuk keperluan kebersihan rumah
  • Pupuk organik dari olahan sampah basah
  • Briket atau bahan bakar padat dari pengolahan sampah plastik

Tantangan operasional dan dukungan pemerintah

Sri Untari menilai perubahan pola pikir harus berjalan beriringan dengan fasilitas. Ia mencatat upaya memilah di rumah sering kandas saat sampah kembali tercampur saat diangkut karena keterbatasan sarana.

"Urgensi hari ini soal sampah itu soal awareness, suatu kesadaran. Jadi, membangun mindset untuk mulai melakukan pemilahan sampah itu harus dimasifkan sejak dini, kalau nunggu pemerintah ya bisa lama lagi,"

"Pemerintah daerah harus mengorkestrasi gerakan ini bersama-sama. Kalau berjalan parsial, tumpukan sampah akan tetap ada. Contoh konkretnya, perlu diproduksi gerobak sampah yang memiliki sekat pemisah antara organik dan anorganik,"

Rencana pendampingan dan harapan

Sri Untari berkomitmen memberi pendampingan berkelanjutan. Ia berencana menerjunkan mentor dan menyiapkan sarana pendukung agar gerakan pemilahan berkembang di berbagai kecamatan.

Dengan pendekatan edukasi, fasilitas yang memadai, dan pendampingan teknis, diharapkan rumah tangga di Malang tidak lagi melihat sampah sebagai masalah semata. Dengan pemilahan yang konsisten, limbah rumah tangga bisa menjadi sumber daya dan peluang ekonomi untuk keluarga.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait