Nasional

Pertempuran Medan Area: Perlawanan Rakyat Melawan Sekutu-NICA

Bagikan:
Pejuang dan suasana Pertempuran Medan Area pada masa Revolusi Nasional Indonesia

Pertempuran Medan Area berlangsung di Kota Medan sejak Oktober 1945 hingga 15 Februari 1947. Konflik ini merupakan respons rakyat dan pejuang terhadap kedatangan pasukan Sekutu yang membawa Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA), yang dianggap berupaya mengembalikan kekuasaan Belanda di Sumatra Utara. Bentrokan pecah setelah insiden perampasan dan penghinaan lencana Merah Putih pada 13 Oktober 1945.

Awal mula dan respons rakyat

Berita Proklamasi sampai ke Medan sekitar 10 hari setelah 17 Agustus 1945, ketika Gubernur Sumatra, Teuku Mohammad Hassan, mengumumkannya pada 27 Agustus 1945. Kabar itu memicu semangat nasionalisme dan pembentukan Barisan Pemuda Indonesia sebagai kekuatan lokal untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun perjanjian Civil Affairs Agreement antara Inggris dan Belanda pada 24 Agustus 1945 memberi wewenang administrasi kepada pasukan Inggris atas nama Belanda.

Insiden lencana Merah Putih yang memicu konflik

Pada 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan. Kehadiran mereka awalnya diterima karena alasan pembebasan tawanan perang. Situasi berubah pada 13 Oktober 1945 ketika seorang anggota NICA merampas dan menginjak lencana Merah Putih milik seorang pemuda di sebuah hotel di Jalan Bali. Tindakan itu memicu kemarahan luas dan menjadi pemicu perlawanan bersenjata di berbagai titik, termasuk Pematang Siantar dan Berastagi.

Sikap Sekutu dan eskalasi militer

Melihat meningkatnya perlawanan, Sekutu mengeluarkan ultimatum pada 18 Oktober 1945 yang meminta rakyat menyerahkan senjata. Ultimatum tidak menghentikan perjuangan. Pada 1 Desember 1945 Sekutu memasang papan bertuliskan:

'Fixed Boundaries Medan Area'

Penandaan itu menandai wilayah yang berada di bawah pengawasan militer Sekutu. Pada 10 Desember 1945 pasukan Sekutu memulai operasi militer besar, termasuk penggunaan pesawat tempur, yang menekan posisi pejuang hingga April 1946. Sekutu sempat menguasai pusat Kota Medan dan mendesak pemerintahan Republik untuk meninggalkan kota.

Organisasi perlawanan dan gencatan senjata

Meski kehilangan pusat kota, pejuang membentuk kembali kekuatan. Pada 10 Agustus 1946 para komandan yang pernah bertempur di Medan Area bertemu di Tebing Tinggi dan membentuk Komando Resimen Laskar Rakyat untuk meningkatkan koordinasi. Kontak bersenjata kemudian berkurang dan pertempuran resmi dihentikan pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 berdasarkan keputusan Komite Teknik Gencatan Senjata. Garis demarkasi ditetapkan pada 10 Maret 1947.

Dampak dan korban

Pertempuran Medan Area meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa di kedua belah pihak. Data sejarah mencatat sedikitnya tujuh pejuang Indonesia gugur. Sementara itu, dilaporkan tujuh anggota NICA tewas dan 96 lainnya luka-luka akibat bentrokan yang terjadi sejak Oktober 1945 hingga April 1946. Dampak sosial dan politik dari konflik ini mempertegas tekad rakyat Sumatra Utara mempertahankan kemerdekaan.

Sumber rujukan

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
  • Buku Cerita Perang Kemerdekaan Indonesia (2015)
  • Arsip sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia mengenai Pertempuran Medan Area
Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait