Menperin Perkuat Pengolahan Air di Kawasan Industri untuk Industri Hijau
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memprioritaskan penguatan infrastruktur pengolahan air baku dan air limbah di kawasan industri sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi dan pengembangan industri hijau. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada 12 Mei 2026 saat Kemenperin menandatangani nota kesepahaman dengan Qiaoyin City Management Co., Ltd. dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI).
Kerja sama dan pilot project
Kementerian Perindustrian menjalin kerja sama untuk menguji teknologi pengolahan air terpadu pada kawasan industri. Skema pilot akan diterapkan di lima kawasan industri sebagai proyek percontohan.
"Kawasan industri memainkan peran penting dalam mendukung investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat transformasi industri Indonesia. Karena itu, penguatan infrastruktur pendukung, menjadi prioritas penting dalam pengembangan kawasan industri hijau,"
Agus menyatakan pemerintah tidak hanya mencari sistem pengolahan yang efektif, tetapi juga model pengelolaan yang mudah diterapkan dan direplikasi.
Teknologi yang ditawarkan
Perusahaan Qiaoyin memperkenalkan teknologi Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB) untuk pengolahan limbah industri. Menurut perwakilan Qiaoyin, teknologi ini dirancang untuk menghemat biaya dan penggunaan lahan.
"Melalui teknologi DIAB, kami menghadirkan cara baru dalam mengolah air limbah pabrik yang jauh lebih hemat. Solusi ini mampu memangkas biaya pembangunan hingga 20 persen,"
Wan Yiming, perwakilan Qiaoyin, menambahkan bahwa penggunaan sistem prefabrikasi dapat mempercepat waktu operasional fasilitas pengolahan.
Kebutuhan pengelolaan air di kawasan industri
Hingga 2025 tercatat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas 98.291,68 hektare. Nilai realisasi investasi pada kawasan tersebut mencapai Rp6.744,58 triliun, yang mendorong kenaikan kebutuhan sistem pengelolaan air dan limbah.
Pengembangan infrastruktur pengolahan air dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan industri berjalan berkelanjutan dan sesuai standar lingkungan.
Dukungan kapasitas dan transfer teknologi
Ketua Umum HKI, Akhmad Maruf Maulana, menyambut positif kerja sama ini karena dapat meningkatkan kualitas pengelolaan air di kawasan industri. Sementara itu, Dirjen Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional, Tri Supondy, menyatakan Kemenperin akan terus mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan untuk menarik investasi dan mempercepat transfer teknologi.
Kolaborasi ini juga diharapkan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia nasional serta mendorong pengembangan industri berbasis inovasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemendag Ajak Pelaku Usaha Jatim Perluas Ekspor lewat TEI 2026
Kemendag ajak pelaku usaha Jawa Timur ikut TEI 2026 di ICE BSD (14-18 Okt) untuk memperluas pasar ekspor dan...
Harga Emas Antam Stabil pada 5 Juli 2026
Harga emas Antam stabil di Logam Mulia pada Minggu, 5 Juli 2026; 1 gram tercatat Rp2.670.000 setelah koreksi...
KAI Services Apresiasi Prami yang Selamatkan Bayi di Kereta
KAI Services mengapresiasi prami Wanda Putri Lestari yang menyelamatkan bayi dua bulan ditemukan di toilet K...
KAI Group Layani 259 Juta Pelanggan pada Semester I 2026
KAI Group melayani 258,99 juta pelanggan pada Semester I 2026, naik 7,55% dan mengangkut 32,5 juta ton baran...
Malahayati Konsultan: Edukasi Pinjol Tetap Berjalan Meski Proses Administratif
Malahayati Konsultan tetap menjalankan edukasi literasi pinjol di Jakarta Selatan, meski proses administrati...
Tiga Stasiun Terhubung Pelabuhan Layani 3,88 Juta Penumpang
Merak, Ketapang, dan Tanjung Priok layani 3,88 juta penumpang pada Semester I 2026, naik 5,12% dari 2025.