Ditjen Imigrasi: Kasus Perdagangan Orang Turun 65,92%
Direktorat Jenderal Imigrasi melaporkan penurunan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) lintas negara hingga 65,92 persen pada periode 2003–2005, namun ancaman masih tinggi dan pengawasan diperketat sejak desa hingga luar negeri. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, pada Selasa, 26 Mei 2026, di Jakarta.
Penurunan kasus dan kerentanan yang masih tinggi
Menurut Hendarsam, meski jumlah kasus menurun, hal itu tidak berarti ancaman telah hilang. Tingkat kerentanan di daerah kantong pekerja migran tetap sangat tinggi. Oleh karena itu, Ditjen Imigrasi menegaskan tidak akan lengah dalam pengawasan dan pencegahan.
"Penurunan jumlah kasus ini tidak berarti ancaman telah hilang, karena tingkat kerentanan masih sangat tinggi,"
Daerah paling rentan
Hendarsam menyebut provinsi penyumbang pekerja migran terbesar adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Di tingkat kabupaten, Indramayu, Cilacap, dan Lombok Timur tercatat sebagai wilayah paling rentan terhadap praktik TPPO lintas negara. Identifikasi wilayah rawan ini menjadi dasar penempatan strategi pengawasan.
Strategi pengawasan berlapis
Untuk menjawab kerentanan itu, Ditjen Imigrasi menerapkan pengawasan berlapis. Pengawasan dimulai sejak pengajuan paspor di desa hingga pemantauan WNI di luar negeri. Upaya ini didukung pembinaan di level desa.
Program pembinaan mencakup 885 Desa Binaan Imigrasi yang diawasi oleh 446 petugas pembina desa. Langkah ini dimaksudkan untuk menekan keberangkatan nonprosedural dan praktik perekrutan ilegal.
Integrasi sistem dan hasil pencegahan
Ditjen Imigrasi mengintegrasikan sistem BCM, SOI, dan SIMKIM untuk mendeteksi warga berisiko secara real-time. Integrasi tersebut bertujuan memperkuat deteksi dini dan pengawasan lintas batas.
Hendarsam menyebut pendekatan edukasi dan profiling membuahkan hasil operasional. Sepanjang 2025, keberangkatan 7.414 pekerja migran nonprosedural berhasil dicegah. Selain itu, penolakan paspor nonprosedural turun 63,97 persen dan penundaan keberangkatan menyusut 67,85 persen.
Penguatan fungsi keimigrasian luar negeri
Fungsi keimigrasian luar negeri juga diperkuat melalui validasi izin tinggal dan penerbitan Surat Perintah Laksana Pemulangan (SPLP) bagi WNI bermasalah. Antara 2023–2025, lebih dari 27 ribu SPLP diterbitkan, mayoritas membantu pemulangan WNI dari Malaysia.
Upaya regulasi
Ditjen Imigrasi mendorong penguatan kewenangan imigrasi dalam RUU TPPO. Tujuannya agar petugas memiliki dasar hukum lebih kuat untuk melakukan profiling, menangguhkan penerbitan paspor, dan menunda keberangkatan bila perlu.
Dengan data dan strategi yang sudah dijalankan, Ditjen Imigrasi menegaskan akan terus memperluas pengawasan dan pembinaan untuk menekan praktik TPPO lintas negara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Purbaya: Pemerintah Kecualikan Empat Negara dari Aturan DHE SDA
Purbaya menyebut empat negara dikecualikan dari kewajiban DHE SDA karena perjanjian bilateral dan investasi...
P2MI Gandeng Kemenkum dan Kemen PPPA Perkuat Perlindungan PMI
P2MI bekerja sama dengan Kemenkum dan Kemen PPPA untuk memperkuat perlindungan pekerja migran dari hulu samp...
PERSAGI: Standar Bahan Baku Kunci Keberhasilan Program MBG
PERSAGI minta BGN perkuat standar bahan baku MBG untuk memastikan kecukupan gizi bagi bumil, busui, balita,...
DPR Dukung Pelarangan Vape jika Disalahgunakan untuk Narkoba
DPR mendukung pelarangan vape jika produk itu digunakan sebagai pintu masuk narkoba; pemerintah minta pengaw...
PPATK: Perputaran Dana Judi Online Rp40,3 Triliun Triwulan I 2026
PPATK: perputaran dana judi online mencapai Rp40,3 triliun pada Triwulan I 2026; QRIS makin dominan dan modu...
Polri dan Kemnaker Selesaikan Sengketa PHK 134 Pekerja, Bayar Rp12,7 Miliar
Desk Ketenagakerjaan Polri dan Kemnaker menyelesaikan sengketa PHK 134 pekerja PT Amos Indah Indonesia denga...