PAAI: Penurunan Tanah Jakarta Dipengaruhi Alam dan Aktivitas Manusia
Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI), Irwan Iskandar, menyatakan penurunan muka tanah di Jakarta bukan hanya akibat perubahan muka air tanah, melainkan gabungan beberapa faktor alam dan manusia. Pernyataan disampaikan Irwan kepada RRI PRO3 di Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.
Inti temuan: hubungan tidak sederhana
Irwan menekankan bahwa hubungan antara groundwater level (muka air tanah) dan subsiden (penurunan muka tanah) tidak bisa disimpulkan secara sederhana. Data menunjukkan fenomena kontra-intuitif di lapangan: ada lokasi di mana muka air tanah turun namun permukaan tanah tetap stabil atau bahkan naik, dan sebaliknya.
"Ada yang groundwater level-nya turun tapi level tanahnya masih juga stabil atau naik dan sebaliknya, ada yang muka air tanah yang naik tapi di situ subsiden tetap terjadi. Jadi kalau kita urai, penurunan muka tanah di Jakarta itu dominasi ada tiga hal,"
Tiga faktor dominan penurunan muka tanah
Menurut Irwan, ada tiga faktor utama yang mendominasi penurunan muka tanah di Jakarta. Ketiganya saling berkaitan dan mempengaruhi kondisi lokal secara berbeda.
- Kondisi geologi alami — struktur tanah dan lapisan sedimen yang mendasari kota.
- Beban bangunan — berat konstruksi dan infrastruktur yang menekan lapisan tanah.
- Kenaikan muka laut — peningkatan permukaan air laut yang terus berlangsung.
Kualitas air tanah: banyak lokasi tak layak konsumsi
Irwan juga memperingatkan kondisi kualitas air tanah yang menurun di sejumlah wilayah, khususnya di bagian utara Jakarta. Ia mengatakan sebagian wilayah telah masuk kategori kritis atau rusak sehingga air tanah "tidak layak minum."
Sumber pencemaran air tanah
Air tanah dangkal yang selama ini digunakan masyarakat rentan terhadap pencemaran akibat aktivitas manusia. Irwan merinci beberapa sumber pencemaran yang ditemukan di lapangan.
- Kebocoran septic tank
- Limbah domestik
- Sampah
- Tingginya kandungan bakteri E. coli
Gambaran terakhir
Ringkasnya, penurunan muka tanah di Jakarta merupakan masalah multifaktorial. Data lapangan menunjukkan interaksi kompleks antara kondisi geologi, tekanan dari konstruksi, dan perubahan permukaan laut, sementara kualitas air tanah di beberapa kawasan utara sudah terganggu sehingga tidak lagi aman untuk dikonsumsi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 Dievakuasi, 55 Masih Dicari
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 korban dievakuasi (108 selamat, 80 meninggal), 55 orang masih dicari dari manif...
Basarnas Kerahkan 1.200 Personel SAR, Operasi KM Virgo Hari ke-21
Basarnas kerahkan lebih dari 1.200 personel SAR dalam operasi hari ke-21 untuk mencari korban KM Virgo Trans...
55 Korban Hilang, Basarnas Lanjutkan Operasi SAR KM Virgo
Basarnas melanjutkan operasi SAR KM Virgo pada hari ke-21 untuk mencari 55 korban hilang; operasi disesuaika...
Kalaksa BPBD Jatim: 90%+ Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia
BPBD Jatim: lebih dari 90% karhutla dipicu aktivitas manusia; kelalaian kecil seperti puntung rokok bisa mem...
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...