Ketua PAAI: Krisis Air Perlu Dilihat dari Kuantitas dan Kualitas
Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI), Irwan Iskandar, menilai krisis air harus dianalisis dari dua aspek utama: kuantitas dan kualitas. Pernyataan itu disampaikan kepada RRI PRO3 di Jakarta pada Sabtu, 30 Mei 2026. Menurut Irwan, mengabaikan salah satu aspek akan mengaburkan solusi jangka panjang.
Kuantitas: pengaruh musim dan sebaran
Irwan menjelaskan ketersediaan air sangat dipengaruhi kondisi musim. Fenomena seperti El Nino dan kemarau panjang mengurangi pasokan air di banyak wilayah. Selain itu, ada daerah di Indonesia yang secara alami memiliki curah hujan rendah sehingga ketersediaan air lebih terbatas.
Akibatnya, tantangan distribusi dan persediaan menjadi nyata, khususnya di kawasan perkotaan yang padat. Kondisi ini menuntut perencanaan pasokan air yang antisipatif dan adaptif terhadap variabilitas iklim.
Kualitas: dampak pengelolaan permukaan
Irwan menekankan bahwa penurunan kualitas air tak kalah penting. Faktor pengelolaan lingkungan permukaan, seperti penanganan sampah dan limbah domestik, ikut menentukan mutu air tanah dan air permukaan.
"Degradasi atau penurunan kualitas ya tentunya tidak bisa kita pungkiri, ini juga mungkin keterkaitannya sangat kompleks dengan tata kelola di permukaan. Penanganan sampah, penanganan limbah-limbah domestik, itu juga mempengaruhi kualitas air tanah,"
Dengan menurunnya kualitas, sumber air yang tersedia menjadi kurang layak pakai untuk konsumsi dan kegiatan ekonomi, sehingga beban pengolahan dan biaya akan meningkat.
Cadangan air tanah dan kebutuhan tata kelola
Meski menghadapi tantangan, Irwan menyatakan Indonesia masih memiliki cadangan air yang besar. Menurutnya, cadangan air tanah secara volumetrik jauh lebih besar dibandingkan air permukaan, mencapai sekitar tiga puluh kali lipat.
Namun ia mengingatkan bahwa ketersediaan fisik saja tidak cukup. Pengelolaan harus dilakukan secara adil dan berkelanjutan agar manfaatnya dirasakan secara ekonomi dan sosial.
"Tapi bagaimana tata kelola dan mengatur penggunaan sumber daya ini sehingga cukup adil, memberikan dampak positif baik buat ekonomi dan sosial,"
Irwan mendorong sinergi kebijakan antara pengelolaan air permukaan dan air tanah, serta peningkatan praktik pengelolaan limbah. Pendekatan terpadu dinilai perlu untuk memastikan ketersediaan dan kualitas air tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...