Anggota DPR: Penambahan Layar Bioskop Harus Perkuat Ekosistem
Novita Hardini, anggota Komisi VII DPR, meminta pemerintah mengiringi rencana penambahan layar bioskop dengan penguatan ekosistem perfilman nasional.
Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 2 Juni 2026, sebagai respons terhadap rencana pemerintah menambah jumlah layar bioskop di Indonesia. Novita menilai penambahan layar tanpa kebijakan yang berpihak berisiko menimbulkan masalah baru, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan.
Kekhawatiran ekonomi dan akses penonton
Novita mempertanyakan apakah masyarakat saat ini memiliki kemampuan ekonomi untuk mengakses bioskop secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa pertanyaan utama bukan sekadar jumlah layar yang akan ditambah.
“Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak layar yang perlu ditambah,”
Menurutnya, penambahan kursi dan layar tidak otomatis berarti peningkatan jumlah penonton. Jika permintaan tidak tumbuh seiring kapasitas, kebijakan tersebut dapat berujung pada risiko bisnis bagi industri.
“Jangan sampai negara mendorong investasi besar-besaran, tetapi mengabaikan fakta sebagian masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan pokok,”
Ketimpangan distribusi dan persaingan film
Novita menyoroti masalah distribusi dan keberpihakan kebijakan sebagai tantangan utama perfilman nasional. Ia menyebut film Indonesia masih menghadapi ketimpangan akses layar dan persaingan tidak seimbang dengan film impor.
“Persoalan kita bukan semata kekurangan layar, tetapi bagaimana dapat memberikan ruang yang adil bagi film Indonesia,”
Ia mendesak agar negara hadir memastikan film nasional tidak selalu kalah oleh mekanisme pasar yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek.
Rekomendasi kebijakan dan penguatan ekosistem
Novita meminta Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan merumuskan regulasi yang lebih afirmatif bagi perfilman nasional. Regulasi itu diharapkan memperkuat seluruh rantai ekosistem perfilman.
- Produksi
- Distribusi
- Promosi
- Akses penayangan
"Yang dibutuhkan industri film Indonesia saat ini bukan sekadar penambahan infrastruktur fisik, tetapi keberpihakan kebijakan," kata Novita.
Kebutuhan layar versus realitas saat ini
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, sebelumnya menyatakan penambahan layar penting untuk perkembangan perfilman nasional. Ia menilai keterbatasan jumlah layar menjadi kendala bagi peningkatan jumlah penonton secara berkelanjutan.
“Di dalam negeri kita belum memaksimalkan karena jumlah layar kita masih terbatas,”
Fadli menyebut kebutuhan layar sekitar 10.000, sementara ketersediaan saat ini sekitar 2.500.
Perdebatan antara kebutuhan infrastruktur dan penguatan ekosistem menegaskan bahwa solusi untuk mengembangkan perfilman nasional harus bersifat menyeluruh. Selain menambah layar, kebijakan yang berpihak dan program peningkatan akses bagi penonton diperlukan untuk menjaga keberlanjutan industri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Baleg Dorong RUU Air Minum dan Sanitasi Percepat Penurunan Stunting
Baleg DPR mendorong RUU Air Minum dan Sanitasi sebagai instrumen percepat penurunan stunting dengan menekank...
Eks Hotel Sultan Berpotensi Dirobohkan dalam Penataan GBK
Menteri Rosan Roeslani menyatakan eks Hotel Sultan berpotensi dirobohkan dalam rencana penataan menyeluruh k...
Kemenbud Dorong Pelurusan Sejarah W.R. Soepratman dan Perkuat Literasi
Kemenbud mendorong pelurusan sejarah W.R. Soepratman dan memperkuat literasi kepahlawanan untuk mengenalkan...
Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah, Tekan Biaya Logistik
Presiden resmikan 1.151 km jalan daerah di 37 provinsi untuk memperkuat konektivitas dan menurunkan biaya lo...
Presiden Minta Hotel Sultan Jadi Ikon Baru Indonesia
Presiden Prabowo minta kawasan Hotel Sultan dikembangkan jadi ikon baru Indonesia terintegrasi dengan GBK; r...
Menteri ESDM Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir
Menteri ESDM minta PLN segera atasi pemadaman bergilir dengan langkah teknis terukur, sambil memastikan paso...