Shoim: Paradoks Pembangunan, Pemerataan Ekonomi Belum Merata
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Golkar, M. Shoim Haris, menilai pemerataan ekonomi Indonesia belum optimal meski pertumbuhan makro terlihat stabil. Pernyataan itu disampaikan dalam FOSTA DPR RI Discuss Session (FDS) Volume-4 bertajuk “Menjaga Stabilitas Politik di Tengah Konsentrasi Ekonomi” di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.
Indikator makro menunjukkan perbaikan, tapi distribusi timpang
Shoim mengakui beberapa indikator ekonomi mengalami tren positif, seperti pertumbuhan yang berkisar antara 4,8–5 persen, penurunan angka kemiskinan, dan perbaikan rasio Gini. Namun, menurutnya, kemajuan itu belum diterjemahkan pada pemerataan pendapatan.
"Pertumbuhan ekonomi kita terlihat stabil 4,8–5 persen, kemiskinan turun, rasio gini membaik. Tapi 10 persen kelompok teratas masih menikmati hampir separuh total pendapatan nasional," ujar Shoim, Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.
Penyebab: birokrasi, regulasi tumpang tindih, dan konsentrasi
Shoim menyebut beberapa hambatan utama: praktik regulasi yang tumpang tindih, birokrasi berbelit, dan penegakan hukum yang lemah. Ia menggunakan istilah entropi politik untuk menggambarkan kompleksitas sistem yang menghambat pemanfaatan potensi negara.
Menurut Shoim, kombinasi masalah tersebut memperlambat laju pembangunan padahal Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, populasi muda, dan posisi strategis di kawasan.
Dampak pada tata kelola dan stabilitas
Shoim menilai kondisi itu membuka peluang korupsi sistemik, memperbesar polarisasi politik, dan menaikkan biaya ekonomi bagi masyarakat. Ia menilai fragmentasi kesadaran kolektif menghalangi terbentuknya visi nasional yang kuat.
"Kesadaran kolektif kita terfragmentasi, tidak ada visi bersama yang benar-benar kuat untuk membawa bangsa melompat lebih cepat," ujarnya.
Perbandingan dengan Vietnam
Shoim membandingkan capaian Indonesia dengan Vietnam. Ia menilai Vietnam mampu mempercepat pertumbuhan melalui reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, dan keterbukaan perdagangan global sehingga mengurangi kompleksitas sistem.
"Vietnam belajar cepat dari kegagalan perang, dari perubahan global, dan dari kesuksesan negara lain. Hasilnya Vietnam melompat, sementara Indonesia berjalan di tempat," katanya.
Seruan generasi muda dan rekomendasi FOSTA
Ketua Umum FOSTA, Nur Wahyu Satrio Wibowo, mendorong peran aktif generasi muda politik untuk mendorong perubahan sistem dan memperkuat stabilitas politik nasional. Ia menekankan pentingnya kesadaran politik sebagai langkah awal reformasi.
"Kesadaran adalah kemampuan membaca kelemahan sistem lalu untuk memilih jalan perubahan. Agar bisa terus bertumbuh," ujar Satrio.
Dalam forum itu, FOSTA berharap lahir gagasan konkret untuk memperbaiki tata kelola, menyederhanakan regulasi, dan mendorong pemerataan ekonomi yang lebih berkeadilan.
Perbaikan birokrasi, penegakan hukum yang konsisten, dan visi pembangunan kolektif menjadi titik awal yang ditekankan untuk mengatasi paradoks pembangunan dan mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Jasa Marga Lanjutkan Pemeliharaan Tol Cipularang–Padaleunyi
Jasa Marga melanjutkan pemeliharaan Tol Cipularang–Padaleunyi pada 5–11 Juli 2026, mencakup rekonstruksi, ma...
KLH Sanksi Administrasi atas Kebakaran TPA Jatiwaringin
KLH akan sanksi administrasi TPA Jatiwaringin karena kelalaian; pengawasan dimulai 1 Agustus 2026 dan rehabi...
Tokopedia Bantah PHK, Terapkan Internal Mobility dan Buka 100+ Posisi
Tokopedia tegas: bukan PHK, melainkan penataan tenaga kerja lewat internal mobility dan buka lebih dari 100...
Pelita Air dan BNI Tawarkan Diskon Tiket Domestik hingga Rp360.000
Pelita Air dan BNI beri diskon tiket domestik hingga Rp360.000, pembelian 4–31 Juli 2026 untuk terbang 6 Jul...
Indonesia dan Singapura Sepakati Jaga Keamanan Selat Malaka
Indonesia dan Singapura sepakat memperkuat keamanan Selat Malaka pada pertemuan Leaders' Retreat 6 Juli 2026...
TransNusa Buka Rute Jakarta–Bangkok dan Bali–Wakatobi
TransNusa buka rute Jakarta–Bangkok per 6 Agustus 2026 dan dua rute Denpasar ke Wakatobi dan Waingapu pada J...