Dokter Ajak Tenaga Kesehatan Pakai Medsos untuk Lawan Hoaks Imunisasi
Dokter anak dan influencer kesehatan Aslinar mengajak tenaga kesehatan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan edukasi imunisasi dan menangkis hoaks, saat media briefing Mengejar Anak Zero Dose di Banda Aceh, Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai platform daring efektif untuk meluruskan informasi keliru dan mendorong cakupan imunisasi.
Media sosial sebagai alat edukasi
Aslinar menekankan peran aktif tenaga kesehatan di media sosial. Menurutnya, akun profesional dapat digunakan untuk berbagi ilmu sederhana yang masih belum diketahui publik.
Nah mungkin kita bisa menggunakan media sosial kita, jadinya kita sebagai tenaga kesehatan bisa menggunakan sebagai edukasi. Untuk menyebarkan kebaikan, berbagi ilmu, mencegah, menyangkal khawatir
Ia juga rutin menggelar sesi tanya jawab di Instagram untuk merespons kekhawatiran orangtua terkait vaksin. Aslinar mengatakan beberapa mitos yang beredar cukup kuat, termasuk klaim bahwa vaksin menyebabkan autisme atau merupakan bagian konspirasi asing.
Dampak cakupan imunisasi rendah
Aslinar memperingatkan konsekuensi cakupan imunisasi yang rendah. Penularan penyakit menjadi lebih mudah jika banyak anak belum menerima vaksin dasar.
Ia menyebutkan satu penderita campak dapat menularkan penyakit kepada 12 hingga 18 orang di sekitarnya. Di rumah sakit, sebagian besar pasien anak yang dirawat menunjukkan status imunisasi tidak lengkap.
Karna yang kami hadapi seperti itu setiap hari, pada saat kita visit ke ruangan anak. Pasien-pasien yang kita dapati sebagian besar, termasuk pasien-pasien yang tidak diimunisasi seperti campak, radang paru, kemudian TBC, pertusis
Kasus yang sering muncul antara lain:
- Campak (measles)
- Pertusis (batuk rejan)
- Tuberkulosis
- Radang paru dengan komplikasi berat
Tantangan dan target di Aceh
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus, mengakui pengaruh negatif media sosial menyebabkan beberapa tenaga kesehatan masih menemui penolakan imunisasi di lapangan.
Mungkin itulah efek sampingnya yang dilihat, jadi dibaca oleh di medsos-medsos juga seperti itu. Dan zaman sekarang ini daripada diomongin sama orang tua lebih didengar medsosnya
Ferdiyus menyampaikan target Provinsi Aceh adalah mencapai minimal 95 persen cakupan imunisasi tahunan. Untuk itu pemerintah menyiapkan dukungan dari sekitar 37 ribu tenaga kesehatan yang tersebar di 366 puskesmas.
Implikasi dan langkah ke depan
Perpaduan edukasi langsung dan komunikasi digital dinilai penting untuk membendung informasi salah. Tenaga kesehatan diminta aktif mengisi ruang publik daring dengan informasi akurat dan mudah dipahami.
Jika upaya ini berjalan, diharapkan kasus penyakit yang dapat dicegah vaksin akan menurun dan beban perawatan anak di rumah sakit bisa berkurang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BPOM Perketat Pengawasan Rantai Pasok Obat untuk Keamanan Publik
BPOM melakukan inspeksi lapangan ke fasilitas distribusi obat untuk menjamin mutu, keamanan, dan akses obat...
Penelitian Unair: Galon PC Tidak Picu Gangguan Hormon dan Kanker
Penelitian Unair menemukan galon polikarbonat (PC) tidak terkait gangguan hormon, reproduksi, atau kanker; k...
BPOM dan HMI Perkuat Pengawasan Obat Lewat Peraturan Baru
BPOM dan HMI sepakat memperkuat pengawasan penjualan obat di toko modern lewat Peraturan BPOM Nomor 5 Tahun...
Kemenkes Tegaskan Perlindungan Nakes, RS Diminta Perketat Keamanan
Kemenkes minta rumah sakit perketat keamanan dan lindungi tenaga kesehatan; nakes berhak hentikan tindakan j...
Kebakaran TPA Jatiwaringin: 154 Warga ISPA, Anak Batuk dan Muntah
Kebakaran TPA Jatiwaringin menyebabkan 154 warga alami ISPA; banyak anak batuk dan muntah, satu ibu hamil di...
Kemenkes Ungkap 3 Temuan Investigasi Kematian dr Icha
Kemenkes paparkan tiga temuan investigasi kematian dr Icha: prosedur SABU, dugaan intimidasi di IGD, dan lem...