Rupiah Melemah karena Konflik AS-Iran dan Kebijakan Ekspor Domestik
Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada Kamis, 21 Mei 2026. Data perdagangan menunjukkan rupiah turun 0,08% atau 13 poin menjadi Rp17.667 per USD. Pelemahan ini didorong kombinasi sentimen eksternal dan kebijakan domestik.
Tekanan dari konflik AS-Iran dan harga minyak
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pergerakan rupiah masih terpengaruh ketegangan antara AS dan Iran. Menurutnya, pernyataan pejabat AS dan tindakan Iran menahan optimisme pasar.
"Sikap Trump membatasi optimisme pasar secara luas,"
Ibrahim juga menyoroti langkah Iran yang memperkuat kontrol di Selat Hormuz. Langkah itu mempertahankan harga minyak pada level tinggi dan menambah tekanan pada nilai tukar.
"Pada hari Rabu, Iran mengumumkan 'Otoritas Selat di Teluk Persia' yang baru. Iran juga menyebut akan ada 'zona maritim terkontrol' di Selat Hormuz,"
Risalah FOMC dan prospek suku bunga AS
Ibrahim mencatat risalah rapat FOMC bulan April yang dirilis pekan ini. Risalah menunjukkan mayoritas pejabat bank sentral AS menilai ada kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut karena inflasi yang masih di atas target dua persen.
"Karena inflasi terus naik di atas target dua persen. Perang Iran menjadi salah satu pemicu meningkatnya inflasi,"
Faktor domestik: kebijakan ekspor dan neraca transaksi berjalan
Di dalam negeri, kebijakan pemerintah soal ekspor komoditas utama ikut menambah kehati-hatian investor. Peraturan yang mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara untuk barang seperti minyak sawit dan batubara dinilai meningkatkan risiko operasional.
Pelaku pasar juga menantikan rilis neraca transaksi berjalan triwulan I 2026 yang dijadwalkan Jumat. Data ini penting setelah neraca transaksi berjalan triwulan IV 2025 sempat defisit karena selisih harga minyak.
Dilema kebijakan suku bunga Bank Indonesia
Ibrahim mengingatkan bahwa pengetatan suku bunga domestik dapat membantu menahan pelemahan rupiah. Namun langkah tersebut memiliki dampak samping yang signifikan.
- Menaikkan BI Rate dapat memperkuat rupiah jangka pendek.
- Risikonya: biaya dana meningkat dan kredit tertekan.
- Dampak lanjut: investasi melambat serta beban cicilan bagi dunia usaha dan rumah tangga naik.
"Pada saat yang sama juga berisiko dapat mempermahal dana, menekan kredit. Serta dapat mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga,"
Secara keseluruhan, rupiah menghadapi tekanan berganda dari faktor global dan domestik. Pergerakan selanjutnya akan sangat tergantung pada perkembangan geopolitik di Teluk, data inflasi AS, serta keputusan kebijakan terkait ekspor dan suku bunga di dalam negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
QRIS Jadi Pionir Pembayaran Digital Indonesia: Penjelasan Lengkap
QRIS jadi pionir pembayaran digital Indonesia berkat interoperabilitas satu kode; volume Q2 2026 capai 6,87...
Harga Emas Antam Hari Ini Tetap, 1 Gram Rp2,74 Juta
Harga emas Antam pada 23 Agustus 2026 stabil; 1 gram Rp2.740.000, tidak berubah dari hari sebelumnya.
QRIS Bebas Biaya Mulai 1 Oktober 2026, Ini Manfaatnya
Bank Indonesia dan industri pembayaran memberlakukan MDR 0% untuk QRIS hingga Rp100.000 mulai 1 Oktober 2026...
KAI Layani 96.940 Wisatawan Mancanegara pada Juli 2026
KAI melayani 96.940 wisatawan mancanegara pada Juli 2026, rekor bulanan tertinggi sejak 2022 dengan kenaikan...
Pengguna Compartment Suite KAI Capai 31.835 Orang Jan–Jul 2026
Layanan Compartment Suite KAI melayani 31.835 penumpang Jan–Jul 2026, naik 51,47% dan mencapai puncak 5.712...
Bisnis Mini Soccer Tumbuh, Peluang Investasi di Berbagai Daerah
Bisnis mini soccer berkembang di banyak daerah; Indo Mini Soccer menawarkan layanan terintegrasi dari konsul...