Pelemahan Rupiah Dorong Harga Naik, Penjualan Elektronik Lesu di Glodok
Jakarta. Pelemahan rupiah yang bergerak mendekati Rp 18.000 per USD mendorong kenaikan harga komponen impor dan menyebabkan penjualan elektronik di kawasan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, melambat tajam dalam beberapa minggu terakhir.
Penurunan penjualan di pusat elektronik Glodok
Pedagang di Glodok melaporkan jumlah pembeli menurun dan beberapa toko terlihat menutup sementara. Banyak toko memilih mengurangi stok untuk menghindari kerugian akibat harga yang terus naik.
Ribuan pedagang yang bergantung pada penjualan elektronik kini menunggu pemulihan daya beli rumah tangga sebelum menambah persediaan lagi.
"Harga pasti naik. Kondisi sulit sekarang. Pembeli lebih fokus pada kebutuhan pokok daripada elektronik," kata seorang pedagang, Herman.
Tekanan dari pelemahan rupiah dan biaya impor
Asosiasi pengusaha elektronik, Apkonik, menyatakan pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.600–17.700 per USD menambah tekanan bagi produsen yang mengimpor komponen. Kenaikan biaya impor cepat diterjemahkan ke harga jual di ritel.
Apkonik memperkirakan kenaikan harga produk elektronik berkisar antara 5% hingga 15%, bergantung tingkat kandungan impor setiap produk.
"Kami berharap stabilitas nilai tukar bisa lebih baik sehingga daya beli rumah tangga dan kepastian usaha di sektor elektronik tetap kondusif," ujar Deny Irawan, Ketua Apkonik.
Komponen yang paling terpengaruh
Produk dengan kandungan impor tinggi mengalami penyesuaian harga lebih cepat. Komponen utama yang terpengaruh antara lain:
- Semikonduktor dan integrated circuits (IC)
- Chipset dan modul memori
- Panel tampilan dan sensor
- Baterai lithium dan unit catu daya
Dampak pada rantai pasok dan perilaku konsumen
Karena sebagian besar transaksi pengadaan komponen dilakukan dalam dolar AS, fluktuasi kurs langsung menaikkan biaya produksi. Imbasnya, produsen sebagian menanggung biaya sementara lainnya meneruskan kenaikan ke konsumen.
Konsumen menjadi lebih berhati-hati, menunda pembelian barang elektronik non-esensial dan memilih prioritas pengeluaran untuk kebutuhan pokok.
Upaya adaptasi dan rekomendasi industri
Pihak industri mendorong penguatan kapasitas komponen dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan terhadap guncangan nilai tukar.
Sementara itu, sebagian besar pedagang memilih tidak menutup usaha, melainkan menahan pembelian stok baru sampai permintaan kembali normal.
Perkembangan kebijakan moneter terkait suku bunga dan stabilisasi nilai tukar akan menjadi faktor penentu arah pemulihan permintaan. Laporan terkait kenaikan suku bunga bank sentral dapat dibaca di tautan berikut: BI Raises Rates to 5.25% as Middle East Turmoil Hits Rupiah.
Jika pelemahan rupiah berlanjut, tekanan pada harga dan penurunan daya beli berpotensi memperpanjang periode pelemahan penjualan di sektor elektronik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...