WHO Tetapkan PHEIC Ebola, Indonesia Diminta Perkuat Skrining
WHO menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) menyusul peningkatan risiko penyebaran Ebola lintas negara. Penetapan ini mendorong imbauan agar Indonesia memperkuat skrining di bandara dan pintu masuk internasional, sebut peneliti Global Health Security Dicky Budiman dalam perbincangan pada 18 Mei 2026.
Mengapa WHO mengambil langkah ini?
Dicky menyatakan peningkatan ancaman berkaitan dengan perubahan ekosistem dan mobilitas manusia. Ia menilai virus dari hewan kini lebih mudah berpindah ke manusia akibat kerusakan lingkungan.
Dunia ini tidak sehat dan ekosistem makin rusak,
Selain faktor ekologis, ia menyoroti pola penyebaran baru. Kasus kini muncul di kota besar dan pusat transportasi, bukan lagi hanya di desa dekat hutan.
Karakteristik strain dan penyebaran
Menurut Dicky, Ebola bukan penyakit baru karena sudah dikenal sejak 1970-an. Namun strain yang sedang menyebar kali ini dinilai lebih mengkhawatirkan karena ditemukan di wilayah dengan mobilitas tinggi.
Dulu biasanya muncul di desa atau dekat hutan,
Kondisi ini meningkatkan potensi penularan lintas batas negara sehingga WHO menetapkan status PHEIC untuk mendorong respons internasional.
Imbauan spesifik untuk Indonesia
Dicky menekankan Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kasus impor. Langkah prioritas adalah memperkuat pengawasan di bandara, pelabuhan, dan semua pintu masuk internasional.
Sistem skrining harus berjalan terus selama 24 jam,
Ia meminta pemerintah memastikan deteksi dini, pelacakan kontak, dan kesiapan fasilitas isolasi tetap optimal. Meski demikian, ia menilai risiko penularan meluas di Indonesia masih relatif rendah dibanding pandemi pernapasan seperti Covid-19.
Dampak sosial dan pesan kepada publik
Dicky juga memperingatkan agar masyarakat tidak memberi stigma terhadap warga dari wilayah terdampak. Ia menegaskan wabah tidak terkait ras atau kelompok tertentu dan penanganan harus berbasis bukti serta solidaritas.
Penetapan PHEIC oleh WHO menandai perlunya koordinasi global lebih intensif dan kesiapan negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mencegah impor dan penyebaran lanjutan. Peningkatan skrining dan sistem surveilans menjadi kunci dalam deteksi dini dan pengendalian wabah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Puskesmas Cibarusah Gencarkan Cek Kesehatan Anak Sekolah
Puskesmas Cibarusah intensifkan CKAS untuk SD, SMP, dan SMA/SMK sejak awal tahun ajaran guna deteksi dini da...
Hari Vegetarian: Jamur Sebagai Alternatif Daging Potensial
Pada Hari Vegetarian, jamur disorot sebagai alternatif daging karena tekstur dan rasa umami, namun masih ada...
Hari Kopi Internasional: Dampak Kopi pada Kesehatan Jantung
Konsumsi kopi berdampak pada jantung tergantung jumlah, jenis, dan penyajian; perhatian meningkat saat Hari...
Cara Terapkan Pola Makan Seimbang di Tengah Kesibukan
Kemenkes menganjurkan praktik pola makan seimbang dengan prinsip Isi Piringku: setengah piring sayur dan bua...
BPOM Pastikan Stok Antiviral Influenza A (H1N1) Cukup
BPOM menyatakan stok antiviral untuk influenza A (H1N1) mencukupi meski kasus meningkat; Kemenkes catat 1.52...
Suntikan Rp20 Triliun untuk BPJS: 6 Catatan Fahira Idris
Fahira Idris menyambut suntikan Rp20 triliun untuk BPJS, namun memberi enam catatan agar dana memperkuat ket...