Wamen HAM: Bangun Papua Berbasis Etnosains
Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto mendorong pembangunan Papua yang mengedepankan etnosains, Sabtu, 30 Mei 2026, di Jakarta. Ia menekankan pembangunan harus mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan teknologi modern tanpa menghapus identitas budaya Papua.
Inti seruan: siapa, apa, kenapa
Mugiyanto menyatakan Papua bukanlah "tanah kosong" melainkan "ruang hidup bagi ratusan peradaban". Ia mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan merancang kebijakan pembangunan yang menghargai pengetahuan lokal sebagai basis solusi praktis.
Data dan potensi pengetahuan lokal
Mugiyanto menyebut Papua memiliki 301 suku dan 428 bahasa daerah yang menyimpan pengetahuan empiris. Menurutnya, etnosains di Papua mencakup bidang pertanian, kesehatan, serta pengelolaan lingkungan yang teruji ratusan tahun.
Contoh praktik lokal
Beberapa praktik lokal yang dipaparkan sebagai bukti efektivitas etnosains antara lain:
- Irigasi tradisional komunitas Dani
- Pengelolaan sagu oleh masyarakat Asmat dan Marind
- Hukum adat laut yang mengatur pemanfaatan sumber daya pesisir
Manfaat dan risiko jika diabaikan
Mugiyanto memperingatkan bahwa mengabaikan pengetahuan lokal berarti menyingkirkan "solusi yang murah, efektif, dan diterima masyarakat." Ia juga mengaitkan pengabaian ini dengan potensi pelanggaran prinsip hak asasi manusia.
"Ini bukan pengetahuan kuno. Ini adalah data empiris yang diuji selama ratusan tahun. Ketika kita mengabaikannya, kita membuang solusi yang murah, efektif, dan diterima masyarakat,"
Ia menegaskan bahwa pembangunan yang tidak mengakui etnosains berisiko merusak kohesi sosial dan kepercayaan publik.
Arah kebijakan dan panggilan aksi
Mugiyanto menyerukan model pembangunan yang tidak menyamakan semua pola, melainkan merayakan keberagaman melalui inovasi yang "membumi" dari tanah Papua. Ia mengajak agar kebijakan merangkul pengetahuan lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
"Mari bangun Papua bukan memaksakan keseragaman, tetapi merayakan keberagaman melalui inovasi membumi dari tanah Papua,"
Dengan pendekatan ini, diharapkan program pembangunan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan lebih sesuai konteks lokal, sehingga meningkatkan efektivitas serta melindungi hak asasi komunitas setempat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...