KemenPPPA-BRIN Dorong Pasar Rakyat Bebas Kekerasan Berbasis Gender
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama BRIN meluncurkan rekomendasi kebijakan untuk menjadikan pasar rakyat sebagai ruang publik yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas kekerasan berbasis gender. Pengumuman dilakukan di Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, setelah kajian lima bulan di 27 pasar di delapan provinsi.
Hasil kajian: ruang lingkup dan metode
Kajian dilakukan secara langsung dan daring untuk memetakan bentuk kekerasan berbasis gender yang terjadi di pasar. Tim menelusuri 27 pasar rakyat di delapan provinsi untuk memahami kerentanan dan pola pelanggaran.
Daerah yang menjadi sampel kajian antara lain:
- Jawa Barat
- Jawa Timur
- DKI Jakarta
- Kalimantan Timur
- Maluku
- Sumatera Barat
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
Bentuk kekerasan dan temuan utama
PLT Sekretaris KemenPPPA, Ratna Susianawati, menekankan bahwa kekerasan berbasis gender di pasar seringkali tidak tampak jelas karena bersifat verbal dan nonverbal. Kasus yang ditemukan meliputi catcalling, perendahan martabat perempuan, stigmatisasi, dan marginalisasi.
"Pasar rakyat menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Sekaligus memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi,"
"Kekerasan berbasis gender di pasar tidak selalu mudah dikenali karena dapat terjadi secara verbal maupun nonverbal. Catcalling, perendahan martabat perempuan, stigmatisasi, dan marginalisasi menjadi kerentanan yang perlu mendapatkan perhatian serius,"
Empat pilar perlindungan
Rekomendasi kebijakan menyusun model perlindungan perempuan dan anak terhadap kekerasan berbasis gender di pasar melalui empat pilar utama:
- Kelembagaan responsif gender
- Infrastruktur inklusif
- Integrasi layanan pengaduan
- Perubahan norma sosial masyarakat
Rekomendasi layanan dan rujukan
Rekomendasi praktis mencakup penyediaan ruang laktasi, integrasi layanan pasar dengan UPTD PPA, kepolisian, fasilitas kesehatan, serta program edukasi dan kampanye antikekerasan. KemenPPPA mendorong agar layanan pasar terhubung dengan sistem perlindungan seperti SAPA 129 untuk memperkuat penanganan korban.
Kolaborasi lintas lembaga dan tindak lanjut
Ratna meminta rekomendasi tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan ditindaklanjuti lewat kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryantono, menguatkan poin tersebut dan menilai rekomendasi dapat menjadi dasar penyusunan regulasi lebih lanjut.
"Pencegahan kekerasan berbasis gender di pasar rakyat tidak dapat menjadi tanggung jawab satu pihak. Sehingga membutuhkan kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah,"
Dengan rekomendasi ini, kedua lembaga berharap pasar rakyat dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang melindungi hak perempuan dan anak serta mendukung partisipasi ekonomi secara aman dan setara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...