Mangrove Rusak Tingkatkan Risiko Bencana dan Kepunahan Biota
Universitas Udayana5.000 bibit mangrove di Tahura Ngurah Rai, Denpasar Selatan, Rabu, 2 September 2026, dengan imbauan agar rehabilitasi dilakukan secara berkelanjutan dan terawat.
Kerusakan mangrove dan ancaman bencana
Mangrove berperan sebagai benteng alami pantai yang menahan dampak gempa tektonik, likuifaksi, dan gelombang laut. Jika hutan bakau rusak, perlindungan alami ini mengecil sehingga risiko masuknya bencana ke daratan melonjak.
Yang dipertaruhkan jika mangrove rusak adalah harkat, martabat, dan jiwa kita semua. Mangrove adalah benteng pertama yang menahan dampak bencana.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dewa Gede Wiryangga Selangga, dosen Fakultas Pertanian Universitas Udayana, setelah menghadiri acara penanaman bibit di Denpasar Selatan.
Peran ekologis dan penyerapan karbon
Hutan pesisir tidak hanya melindungi pantai secara fisik, tetapi juga memiliki fungsi ekologis penting. Mangrove menyerap dan menyimpan karbon biru dari atmosfer, sehingga membantu mitigasi perubahan iklim.
Dewa mencatat fungsi ekologis tersebut menopang sebagian besar kehidupan laut di Indonesia.
Data penting: menurut pernyataan akademis yang dikutip, sekitar 85 persen fungsi ekologis kehidupan laut bersumber dan beraktivitas pada wilayah pesisir.
Ketergantungan biota laut
Banyak spesies laut bergantung pada ekosistem mangrove untuk tempat mencari makan, pemijahan, dan berlindung. Jika vegetasi pesisir lenyap, populasi organisme tersebut terancam menurun drastis.
- Ikan
- Udang
- Kepiting bakau
Berbagai biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting bakau sangat bergantung pada ekosistem ini. Ketika mangrove mati, komunitas laut juga terancam sirna.
Upaya pemulihan dan tantangan perawatan
Fakultas Pertanian Universitas Udayana telah mengalihkan fokus riset ke tanaman pesisir selama tiga tahun terakhir. Puluhan peneliti terlibat dalam studi proteksi dan teknik budi daya untuk memperkuat rehabilitasi mangrove.
Dewa menekankan bahwa kegiatan penanaman tidak cukup jika berhenti pada seremoni. Perawatan berkala dan perlindungan berkelanjutan diperlukan agar bibit tumbuh optimal dan mampu menahan abrasi laut.
Penanaman bibit mangrove belum cukup tanpa perawatan dan perlindungan berkelanjutan agar tanaman dapat tumbuh dan bertahan hidup. Perawatan harus dilakukan secara konsisten agar manfaat ekologis mangrove tetap terjaga bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
Imbauan untuk perubahan pola pikir
Pengelola akademis mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk mengubah fokus capaian program rehabilitasi. Keberhasilan sebaiknya diukur dari tingkat kelangsungan hidup pohon, bukan hanya jumlah bibit yang ditanam.
Dengan perlindungan berkelanjutan dan pemantauan ilmiah, fungsi ekologis mangrove dapat dipulihkan untuk mengurangi risiko bencana dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut bagi masyarakat pesisir.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Karhutla Jabar Bakar 325,87 Ha, 215.424 KK Terdampak Kekeringan
BPBD Jabar catat 193 kejadian karhutla seluas 325,87 ha; 215.424 KK terdampak kekeringan. Distribusi 17,69 j...
Kementerian PKP Percepat Bedah Rumah, 434 Unit Dialokasikan di Menteng
Kementerian PKP mempercepat Program Bedah Rumah di Menteng dengan alokasi 434 unit; persyaratan dipermudah d...
Pompanisasi PHTC Selamatkan Lahan Padi di Cirebon dari Puso
Pompa hibrida PHTC di Cirebon keluarkan 36.000 liter/jam, cegah gagal panen akibat kekeringan dan embung boc...
Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Subsidi Stabil hingga 2026
Pertamina Patra Niaga menegaskan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 sesuai arahan pemerintah, me...
MenPPPA Dorong Perempuan Desa Kembangkan Usaha Produktif
MenPPPA mendorong perempuan desa mengubah keterampilan jadi usaha produktif lewat RBI untuk tingkatkan keman...
TNI Gelar Latihan Trident Resolve untuk Hadapi Ancaman Nontradisional
TNI menggelar latihan Trident Resolve 21–25 September 2026 di Banten untuk menguji respons bencana, keamanan...