OJK Perkuat Struktur Perbankan Syariah, Aset Capai Rp1.061 Triliun
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat struktur industri perbankan syariah nasional melalui implementasi Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027. Sampai Maret 2026, aset industri tumbuh 10,49% menjadi Rp1.061,61 triliun, sementara pembiayaan naik 9,82% dan dana pihak ketiga bertambah 11,14%. Penguatan ini ditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan daya saing bank syariah di dalam negeri.
Pertumbuhan industri hingga Maret 2026
Data industri menunjukkan akselerasi pada beberapa indikator utama perbankan syariah. Aset, pembiayaan, dan penghimpunan dana nasabah sama-sama mencatat pertumbuhan tahunan yang signifikan. Angka-angka ini menjadi tolok ukur keberhasilan fase awal RP3SI.
| Indikator | Nilai (Maret 2026) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Aset | Rp1.061,61 triliun | 10,49% |
| Pembiayaan | Rp716,40 triliun | 9,82% |
| Dana Pihak Ketiga (DPK) | Rp811,76 triliun | 11,14% |
Strategi penguatan struktur
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa momentum pertumbuhan dipakai untuk melakukan transformasi menyeluruh. Penguatan struktur industri menjadi fokus utama agar perbankan syariah mampu bersaing dan melayani perekonomian lebih luas.
"Pengembangan dan penguatan perbankan syariah dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan struktur industri. Selain itu, dilakukan pengembangan produk dan layanan, serta penguatan kontribusi terhadap perekonomian nasional," ujar Dian dalam keterangan pers pada Sabtu, 16 Mei 2026.
Sebagai bagian dari penguatan struktur, kini terdapat tiga bank syariah besar yang masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 dan 3. OJK juga menargetkan terbentuknya satu Bank Umum Syariah baru hasil proses spin-off pada tahun ini.
Konsolidasi di level BPR Syariah
Konsolidasi tidak hanya terjadi pada bank umum. Di level BPR Syariah, 21 entitas telah digabung menjadi sembilan unit yang lebih besar dan efisien. Langkah ini diharapkan memperkuat daya tahan dan kapasitas layanan di segmen mikro dan ritel.
"Penguatan struktur ini penting untuk meningkatkan ketahanan industri. Serta memperbesar kapasitas layanan perbankan syariah nasional," tambah Dian.
Dampak dan prospek
Program ini merupakan implementasi pilar pertama RP3SI yang fokus pada penguatan struktur dan ketahanan industri. Konsolidasi dan pembentukan bank baru diprediksi meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan layanan, dan mendorong kontribusi sektor syariah terhadap perekonomian nasional.
Dengan langkah-langkah tersebut, OJK berharap industri perbankan syariah siap menghadapi tantangan ke depan dan melayani kebutuhan pembiayaan inklusif di seluruh wilayah Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Ditutup 6.036,89 pada 2 Okt 2026, Mayoritas Saham Melemah
IHSG ditutup di 6.036,89 pada 2 Okt 2026, turun 0,46%; mayoritas saham melemah dengan transaksi Rp11,79 tril...
IHSG Turun 0,32% ke 5.990 pada Jeda Perdagangan 2 Okt
IHSG sesi I turun 0,32% ke 5.990,20 pada 2 Oktober 2026. Volume tinggi dan tekanan jual mendominasi meski be...
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...