OJK: Modus Judol Kini Gunakan QRIS hingga Aset Kripto
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan praktik perjudian online (judol) kini berkembang menjadi kejahatan ekonomi terorganisir. Peringatan disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, pada OJK Banking Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026. Menurut OJK, pelaku memanfaatkan berbagai instrumen digital—termasuk rekening penampung, dompet elektronik, QRIS, dan aset kripto—untuk menyamarkan aliran dana hasil judi.
Modus baru: QRIS, dompet digital, dan kripto
Dian menyatakan kemajuan teknologi digital membawa manfaat, tetapi juga membuka celah penyalahgunaan sistem keuangan untuk judi daring. Pelaku judol disebut memadukan platform digital dengan jaringan lintas negara untuk memindahkan dan menyamarkan uang.
Peralihan ke instrumen non-tunai seperti QRIS dan aset kripto membuat pelacakan aliran dana menjadi lebih kompleks. Selain itu, penggunaan rekening penampung dan dompet elektronik memudahkan pemecahan dana menjadi transaksi kecil untuk mengaburkan asal-usulnya.
Data laporan mencurigakan: tren meningkat
OJK mengutip data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menunjukkan peningkatan laporan transaksi keuangan mencurigakan terkait perjudian. Pada 2025, kenaikan mencapai 260,03 persen dibandingkan periode sebelumnya.
- Kontribusi indikasi tindak pidana perjudian terhadap laporan transaksi naik dari 18,37% pada Desember 2024 menjadi 48,83% pada Desember 2025.
- Pada kuartal pertama 2026, indikasi perjudian tercatat sebesar 35,28% dari seluruh laporan transaksi mencurigakan.
Dampak sosial dan ekonomi
Dian menekankan dampak judol tidak sebatas kerugian finansial. Aktivitas ini menurutnya mengganggu kehidupan sosial, ketahanan keluarga, dan produktivitas nasional.
"Perjudian online saat ini telah berkembang menjadi kejahatan ekonomi yang sangat terorganisir," ujarnya pada forum tersebut.
Dia juga menilai tingginya laporan mencurigakan mencerminkan dua hal: komitmen perbankan dalam pelaporan sekaligus besarnya tantangan pemberantasan judol.
"Di satu sisi hal tersebut mencerminkan komitmen dan kontribusi perbankan untuk memberantas judol. Namun, di sisi lain hal tersebut juga menunjukkan masih besarnya tantangan yang dihadapi dalam pemberantasan judol," ujar Dian.
Perlunya perhatian dan sinergi
OJK menilai hasil pelaporan sektor perbankan kepada PPATK dapat menjadi indikator ancaman terhadap stabilitas sosial dan integritas sistem keuangan. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari regulator, perbankan, dan penyedia jasa keuangan digital untuk meningkatkan deteksi dan penanggulangan.
Ke depan, upaya pencegahan dan penegakan hukum yang terkoordinasi dinilai penting untuk mereduksi peredaran dana hasil judi dan melindungi masyarakat dari dampak sosial-ekonomi lebih luas.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...