BEI Terapkan Price Impact Ratio untuk Deteksi HSC
Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan kriteria baru berupa Price Impact Ratio untuk mendeteksi Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) pada saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Pengumuman ini disampaikan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026, sebagai langkah memperkuat transparansi dan pengawasan pasar.
Kriteria baru dan definisi
BEI menambahkan Price Impact Ratio sebagai salah satu kriteria penentuan HSC. Metodologi ini berlaku untuk struktur kepemilikan saham baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Price Impact Ratio mengukur perubahan harga saham terhadap velocity—tingkat perputaran atau frekuensi transaksi. Dalam perhitungan, velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang ada di publik (free float).
Kami menambahkan satu kriteria yaitu kriteria Price Impact Ratio atas seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun,
Hal itu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya indikasi HSC,
Artinya saham-saham yang volume transaksinya rendah, akan menghasilkan velocity yang rendah. Velocity rendah tetapi perubahan harganya besar, akan menghasilkan Price Impact Ratio yang tinggi.
Proses penyaringan dan jadwal
BEI akan melakukan screening terhadap saham yang menunjukkan Price Impact Ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi HSC. Proses penyaringan ini berlangsung secara periodik setiap tiga bulan, mengikuti siklus evaluasi indeks utama.
Selain mekanisme periodik, faktor pemicu (trigger factors) untuk tindakan pengawasan tetap dapat dilakukan secara insidental sesuai kebutuhan pengawasan pasar.
Dampak awal dan angka terbaru
Dengan penerapan kriteria baru ini, terdapat penambahan jumlah saham yang masuk kategori HSC. Saat ini tercatat ada 37 saham baru yang diklasifikasikan sebagai HSC, sehingga total menjadi 51 saham dalam kategori tersebut.
Implikasi bagi investor dan pasar
Penerapan Price Impact Ratio bertujuan memperjelas struktur konsentrasi kepemilikan saham dan menambah transparansi. Dampak yang diharapkan meliputi:
- Peningkatan deteksi dini potensi manipulasi atau konsentrasi kepemilikan;
- Informasi lebih jelas bagi investor ritel dan institusi dalam menilai risiko likuiditas;
- Peningkatan kepercayaan pasar melalui reformasi transparansi yang lebih komprehensif.
Langkah ini menegaskan komitmen BEI untuk melanjutkan reformasi transparansi pasar modal Indonesia dan menjaga kepercayaan investor. Implementasi berkala dan kombinasi mekanisme insidental diharapkan mendorong pengawasan yang lebih responsif terhadap dinamika pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...