Perkembangan Timteng Tekan Nilai Tukar Rupiah, Dibuka Turun 12 Poin
Rupiah dibuka melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 12 Agustus 2028, tertekan perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS. Kurs rupiah turun 0,07 persen atau 12 poin menjadi Rp17.874 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya anjlok 0,60 persen ke posisi Rp17.861 per dolar AS.
Pembukaan pasar dan data singkat
Pada sesi pembukaan, pelemahan rupiah mengikuti penguatan mayoritas mata uang kawasan Asia terhadap dolar AS. Indeks dolar AS tercatat menguat ke level 99,85, memperberat tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.
Pergerakan awal ini menempatkan rupiah pada rentang yang masih fluktuatif, sejalan dengan sentimen global yang didominasi faktor geopolitik.
Geopolitik Timur Tengah jadi faktor utama
Analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi di Timur Tengah masih memberikan sinyal beragam dan menjadi faktor penekan utama terhadap rupiah.
"Rupiah diperkirakan akan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng,"
Lukman mencatat adanya laporan dari Pakistan mengenai proses kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang dinilai membawa prospek positif. Namun, dia mengingatkan sikap tegas Teheran soal pembukaan kembali Selat Hormuz yang masih terikat sejumlah persyaratan.
"Di sisi lain, investor cenderung bersikap wait and see menjelang rilis inflasi AS,"
Pengaruh domestik dan agenda pasar
Selain faktor eksternal, pasar domestik juga menunggu hasil review dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang dapat mempengaruhi aliran modal dan sentimen investor terhadap aset Indonesia.
Lukman memperkirakan volatilitas akan terus muncul hingga kepastian geopolitik dan data ekonomi AS terungkap. Untuk perdagangan harian, ia memprakirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.750–Rp17.850 per dolar AS.
Implikasi dan prospek ke depan
Tergerusnya rupiah pada dua hari berturut-turut mencerminkan sensitivitas pasar terhadap kombinasi risiko geopolitik dan penguatan dolar AS. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan data ekonomi AS sesuai ekspektasi, tekanan pada rupiah berpotensi berkurang.
Sebaliknya, eskalasi konflik atau rilis inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dolar dan memperpanjang tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah.
Dengan kondisi saat ini, pelaku pasar disarankan memantau perkembangan geopolitik, data inflasi AS, dan pengumuman MSCI sebagai faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...