Pemimpin NU Muktamar ke-35 Diminta Dukung Keberlanjutan Prabowo-Gibran
Pemimpin Nahdlatul Ulama yang terpilih pada Muktamar ke-35 diminta mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Permintaan itu disampaikan tokoh muda NU, Gus Lilur, dalam keterangan tertulis pada Kamis, 18 Juni 2026. Ia menilai pilihan pemimpin NU berpengaruh pada persatuan bangsa dan arah kebangsaan.
Alasan dukungan: menjaga persatuan nasional
Gus Lilur mengatakan pemerintahan Prabowo-Gibran telah meredam polarisasi di masyarakat. Ia menilai keberlanjutan pemerintahan menjadi sarana memperkuat rekonsiliasi antarkelompok politik. Karena itu, menurutnya, pemimpin NU harus menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
“Demi persatuan bangsa. Pemimpin NU harus seseorang yang mendukung keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran,”
Nilai Piagam Jakarta sebagai rujukan
Gus Lilur mengaitkan sikap itu dengan semangat para pendiri bangsa pada saat menyepakati Piagam Jakarta. Ia menilai tokoh-tokoh Islam saat itu memilih kepentingan nasional di atas kepentingan golongan. Bagi Gus Lilur, hal tersebut menjadi contoh bagi peserta muktamar saat memilih pemimpin organisasi.
“Semangat Piagam Jakarta adalah memilih kepentingan yang lebih besar. Yaitu, demi menjaga keutuhan republik,”
Imbauan agar muktamar tak jadi arena perebutan kekuasaan
Gus Lilur juga mengingatkan agar Muktamar NU ke-35 tidak menjadi ajang perebutan kekuasaan. Ia menyebut pengalaman Muktamar NU ke-34 di Lampung harus jadi pelajaran agar organisasi tidak terseret konflik internal. Menurutnya, pesan ini penting demi kelangsungan peran NU bagi umat dan bangsa.
“Muktamar ini adalah ujian sejarah bagi NU. Yang dipertaruhkan bukan hanya kepemimpinan organisasi, tetapi juga masa depan umat dan bangsa,”
Rekomendasi tokoh untuk kepemimpinan NU
Dalam pernyataannya, Gus Lilur menyatakan dukungan kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara posisi Rais Aam dinilai layak diisi ulama senior KH Said Aqil Siradj. Ia menyebut kedua tokoh itu memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman untuk memperkuat peran NU.
“Mereka adalah ulama dan cendekiawan yang memiliki rekam jejak panjang. Serta mampu membawa NU semakin berkontribusi bagi bangsa,”
Secara keseluruhan, Gus Lilur mendorong agar para peserta muktamar memilih pemimpin yang mampu menjunjung persatuan nasional, menghindari konflik internal, dan memperkuat kontribusi NU di tingkat nasional serta internasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Rencanakan Pemangkasan Kuota BBM Subsidi 2027
Pemerintah berencana memangkas kuota BBM subsidi menjadi 20,09 juta kl pada 2027, sambil menaikkan alokasi a...
Mendagri Koordinasi Percepatan Penanganan Dampak Gempa NTT
Mendagri Tito Karnavian terus koordinasi percepatan penanganan gempa NTT, fokus evakuasi, listrik, dan distr...
Mendagri Waspadai Gempa Susulan di NTT, Penanganan Dimulai di Pelabuhan
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan potensi gempa susulan di NTT; Kementerian PU akan asesmen kerusakan di...
Seskab: 253 Ton Bantuan Logistik Telah Dikirim ke NTT
Seskab Teddy menyatakan pemerintah telah mengirimkan 253 ton bantuan logistik ke NTT; lima pesawat berangkat...
BMKG: 2.768 Gempa Susulan Guncang Flores Setelah M7,7
BMKG mencatat 2.768 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores hingga 19 Agustus 2026; terbesar M6,2, 81 kej...
KPK: Korupsi Tak Selalu Berbentuk Uang, Bisa Lewat Kebijakan
KPK mengingatkan korupsi tak selalu berbentuk uang; kebijakan yang dimanipulasi bisa merugikan publik dan li...