Politik

Muktamar NU 2026 di Jombang: Kiai Tekankan Peran Moral dan Solusi Keumatan

Bagikan:
Suasana pesantren menjelang Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang

Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Menjelang pembukaan, para kiai menegaskan agar muktamar fokus menguatkan identitas NU sebagai kekuatan moral dan kultural, bukan arena persaingan politik transaksional.

Pesan kiai: utamakan keteladanan dan tradisi pesantren

Menurut sejumlah ulama dan pengurus, akar kekuatan NU ada pada tradisi pesantren dan peran kiai sebagai subkultur yang menjaga epistemologi As'ariyah. Tradisi ini, kata mereka, terus dikontekstualisasikan untuk menjawab tantangan zaman dan menjadi basis praktik sosial NU.

Para kiai diharapkan mempertahankan praktik spiritual dan moral yang menjadi ciri pendiri NU. Dalam pemilihan pemimpin, tradisi tawadhu dan tirakat kiai menjadi penyeimbang agar keputusan tidak bertumpu pada mekanisme politik pragmatis.

Agenda keumatan harus jadi prioritas

Peserta muktamar dianjurkan memusatkan perhatian pada persoalan umat di akar rumput. Isu yang disorot antara lain kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, serta dampak ekonomi global seperti konflik di Teluk yang memengaruhi dalam negeri.

NU dipandang mampu melampaui perannya sebagai komunitas desa. Kombinasi tradisi pesantren dan jaringan sarjana NU dari berbagai negara menjadi modal penting untuk merumuskan solusi atas persoalan tersebut.

Peran intelektual dan Bahtsul Masail

Forum-forum keilmuan seperti Bahtsul Masail disebut sebagai ruang strategis untuk menunjukkan kemampuan ilmiah NU. Hasil musyawarah keagamaan ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan kontemporer dan menegaskan relevansi NU bagi masa depan peradaban Islam.

Penulis menyorot pelajaran sejarah Dinasti Abbasiyah yang menunjukkan kejayaan Islam sebagai peradaban ilmu, bukan semata kekuatan politik. Dari situ, NU diharapkan berkontribusi sebagai pilar peradaban modern melalui penguatan ilmu dan praktik kemasyarakatan.

Implikasi dan harapan ke depan

Dalam pandangan para pemangku kepentingan, muktamar harus menyisihkan rivalitas kepemimpinan demi prioritas keumatan. Konsistensi menjaga tradisi moral, spiritual, dan sosial dipandang krusial agar NU terus relevan dalam menghadapi isu-isu nasional dan global.

Para peserta diharapkan membawa hasil musyawarah yang aplikatif sehingga NU tidak hanya menjadi simbol, melainkan kekuatan praktis yang memberi solusi bagi umat dan bangsa.

Selamat Bermuktamar. Semoga keputusan-keputusan yang dihasilkan menguatkan peran NU sebagai kekuatan moral, kultural, dan ilmiah bagi Indonesia dan dunia.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait