Teknologi

BRIN Buka Fasilitas Riset untuk Periset BRICS

Bagikan:
Delegasi BRIN menawarkan fasilitas riset kepada periset BRICS di Chennai, India

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan fasilitas dan infrastruktur riset unggulan Indonesia kepada periset dari negara anggota BRICS. Tawaran disampaikan Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat, 21 Agustus 2026. Tujuannya memperluas kolaborasi internasional dan mendorong penelitian bersama di bidang strategis.

Penawaran fasilitas riset dan tujuan

Dalam pertemuan tersebut, Arif memperkenalkan kebijakan sains, teknologi, dan inovasi Indonesia serta daftar fasilitas BRIN yang dapat diakses bersama oleh peneliti BRIN, perguruan tinggi, industri, dan periset BRICS. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan mobilitas peneliti dan mempercepat terwujudnya kolaborasi riset yang nyata.

"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," ujar Arif.

Program kolaborasi prioritas

Selain membuka fasilitas, BRIN menawarkan tiga program penelitian dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang siap dikolaborasikan dengan negara BRICS. Ketiga program tersebut mencerminkan prioritas Indonesia di bidang astrofisika, kebumian dan mitigasi bencana, serta biodiversitas.

  • Research and Workshop on Time-domain Astrophysics
  • Expedition of Terrestrial Geological Field Training for Disaster Mitigation
  • Training on Indonesian Biodiversity Structural Biology

Kunjungan ke IIT Madras dan peluang teknologi

Sela pertemuan BRICS, Arif mengunjungi Indian Institute of Technology Madras (IIT Madras) untuk menjajaki kerja sama pada sejumlah teknologi strategis. Fokus penjajakan meliputi aerospace, artificial intelligence, serta quantum information and computing. BRIN mengamati model pengelolaan IIT Madras Research Park sebagai contoh sukses pengembangan dan komersialisasi teknologi berbasis riset.

Model research park tersebut menunjukkan bagaimana kawasan riset dapat lebih dari sekadar ruang interaksi; dengan fokus pada inkubasi teknologi deep-tech, lebih dari 70 persen inovasi mampu berkembang menjadi produk bernilai jual.

Penguatan Kawasan Sains dan Teknologi dan manfaat lokal

BRIN menilai pengalaman IIT Madras dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) di Indonesia. Pengembangan KST diarahkan untuk mendekatkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

"Pengembangan teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan bagaimana kita menguasai teknologinya yang juga penting adalah bagaimana pengembangan tersebut mampu menciptakan manfaat ekonomi, membuka peluang kerja, serta membangun kapasitas masyarakat," kata Arif.

Langkah selanjutnya

BRIN juga menjajaki kolaborasi di bidang antariksa, termasuk penguasaan teknologi roket dan pengembangan infrastruktur bandar antariksa. Pertemuan bilateral dengan negara anggota BRICS diarahkan untuk memperkuat kerja sama yang sudah berjalan sekaligus mengidentifikasi peluang baru pada bidang strategis.

Dengan membuka fasilitas dan program kolaborasi, Indonesia berharap memperkuat posisinya dalam ekosistem riset internasional sambil meningkatkan kapasitas sumber daya manusia nasional.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait