Kesehatan

Menkes Dorong Kolaborasi Internasional Perkuat Penanganan Penyakit Saraf

Bagikan:
Menteri Kesehatan membuka simposium internasional neurologi bersama EMC dan King's College

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong dokter dan peneliti Indonesia memperkuat kolaborasi internasional untuk mempercepat deteksi dan penanganan penyakit otak, seperti stroke, Parkinson’s disease, dan demensia. Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan The 1st International King’s–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026, yang mempertemukan pakar neurologi dari Indonesia dan King’s College London.

Kolaborasi akademik antara EMC dan King’s College

Acara ini merupakan bagian dari kerja sama akademik tiga tahun antara EMC Healthcare dan King’s College London. Kolaborasi awalnya fokus pada pengembangan kompetensi dokter dan tenaga kesehatan di jaringan EMC, namun kini diperluas untuk melibatkan tenaga medis dari luar jaringan.

CEO EMC Healthcare, Jusup Halimi, menjelaskan latar belakang kerja sama itu adalah tingginya kasus diagnosis terlambat untuk Parkinson’s disease dan movement disorder. Hal ini membuat penanganan menjadi lebih kompleks dan biaya meningkat.

"Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya,"

Pelatihan dan peningkatan kapasitas

Selama tiga tahun terakhir EMC mengirim dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, serta tenaga rehabilitasi untuk mengikuti pelatihan bersama King’s College London, termasuk program di Dubai. Pendidikan berkelanjutan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dini dan manajemen penyakit saraf.

Jusup menilai masih ada persepsi bahwa perubahan fungsi tubuh pada lansia adalah hal yang normal dan mesti diterima. Padahal, banyak kondisi yang dapat ditangani sehingga kualitas hidup penderitanya meningkat.

Dorongan dari Kementerian Kesehatan

Menkes Budi Gunadi Sadikin berharap kolaborasi semacam ini membuka akses bagi lebih banyak dokter dan peneliti Indonesia untuk terhubung dengan ahli luar negeri, mempercepat pertukaran pengetahuan, serta menyetarakan kemampuan dokter dalam negeri.

"Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri,"

Tantangan riset dan pengembangan teknologi

Pemerintah disebut telah memperluas akses fasilitas diagnostik, termasuk layanan CT scan di 514 kabupaten dan kota, serta menyiapkan cath lab dan meningkatkan kompetensi dokter menangani stroke dan gangguan neurovaskular kompleks.

Meski demikian, Menkes menyatakan tantangan besar berikutnya adalah penyakit seperti Alzheimer dan demensia yang masih menyimpan banyak pertanyaan ilmiah. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan diagnostik dini, biomarker, genomik, kecerdasan buatan, dan bioteknologi menjadi prioritas.

Kolaborasi antara institusi akademik dalam negeri dan lembaga luar negeri diharapkan mempercepat inovasi diagnostik dan terapi, serta meningkatkan kualitas layanan neurologi bagi pasien Indonesia.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait