Ambulans Udara Butuh Sistem Terintegrasi, Dokter: Tantangan Evakuasi
Pemerintah berencana menghadirkan layanan ambulans udara dan tim dokter terbang untuk mengevakuasi warga di wilayah sulit dijangkau. Namun, pakar kedokteran penerbangan menegaskan layanan itu membutuhkan persiapan matang, termasuk integrasi armada, tenaga medis, fasilitas, dan moda transportasi lain agar evakuasi aman dan efektif.
Kebutuhan sistem terintegrasi
Aviation Medicine Specialist Vika Cokronegoro menyatakan ambulans udara bukan sekadar menyediakan pesawat. Layanan harus didukung tenaga medis terlatih, peralatan portabel, fasilitas asal dan tujuan, serta transportasi darat dan laut untuk akses akhir.
"Flying Doctor merujuk kepada tim medis yang mendampingi pasien selama perjalanan hingga pasien tiba di RS tujuan,"
Vika menekankan peralatan medis harus dapat dipindahkan dari rumah sakit asal, ambulans darat, pesawat, hingga rumah sakit tujuan untuk kontinuitas perawatan.
Risiko penerbangan terhadap kondisi pasien
Evakuasi lewat udara menghadirkan risiko berbeda dibanding darat. Menurut Vika, tekanan kabin yang rendah dan gaya gravitasi (G-force) bisa memperburuk kondisi pasien tertentu.
"Contoh dari risiko ini adalah rendahnya kadar oksigen dalam kabin (berbahaya pada pasien dengan anemia, kelainan jantung dan paru). Tekanan udara yang lebih rendah atau hypobaric,"
Oleh karena itu, setiap pasien harus dinilai terlebih dahulu. Terdapat dua pendekatan evakuasi sebelum terapi definitif: stay and play (stabilisasi sebelum dipindah) dan scoop and run (pindah cepat ke rumah sakit untuk penanganan definitif).
Tipe armada dan pertimbangan geografis
Vika menjabarkan pilihan armada harus menyesuaikan kondisi pasien, geografis, dan fasilitas bandar udara. Jenis yang umum dipertimbangkan antara lain:
- Jet
- Pesawat propeller
- Seaplane (untuk wilayah berair)
- Helikopter (paling fleksibel untuk pendaratan di lapangan terbuka)
"Helikopter paling fleksibel. Bisa landing di lapangan terbuka yang disekitarnya tidak ada obstacle,"
Penerbangan komersial juga dapat digunakan dalam kondisi tertentu dengan pertimbangan rute, jadwal, dan kondisi medis pasien.
Inventarisasi sumber daya dan pangkalan
Untuk membangun layanan nasional, Vika menyarankan pemerintah melakukan inventarisasi armada, rumah sakit, tenaga medis, dan peralatan yang sudah dimiliki pemerintah dan swasta. Langkah ini bertujuan mengurangi pengadaan baru dan menekan biaya operasional.
"Perlu inventarisasi dan koordinasi armada, fasilitas kesehatan, tenaga medis dan peralatan medis milik pemerintah dan swasta. Sehingga meminimalisir biaya pengadaan,"
Lokasi pangkalan juga harus strategis. Vika menilai idealnya pangkalan tergabung dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas lifesaving lengkap agar pasien tidak perlu dirujuk ulang setelah evakuasi.
Koordinasi lintas sektor
Operasional ambulans udara memerlukan sinergi operator penerbangan, tenaga medis, rumah sakit, serta regulasi bidang perhubungan dan kesehatan.
"Operasional ini sangat kompleks, perlu sinergi operator penerbangan, tenaga medis, regulasi perhubungan dan kesehatan,"
Rencana pemerintah dan alasan
Presiden menyatakan ambulans udara dan tim dokter terbang akan membantu mengevakuasi pasien di daerah terpencil. Rencana itu dilatarbelakangi laporan tingginya risiko kematian ibu saat persalinan karena akses transportasi yang buruk.
"Kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan... supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau ada sakit,"
Jika direalisasikan, layanan harus dirancang dengan penilaian medis yang ketat, inventarisasi sumber daya, dan integrasi antarmoda. Tanpa itu, keberadaan ambulans udara berisiko tidak maksimal dan meningkatkan biaya operasional.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Sering Mengantuk di Siang Hari? Bisa Jadi Kekurangan Vitamin D
Kantuk di siang hari bisa jadi tanda kekurangan vitamin D yang menurunkan energi, merusak tidur malam, dan m...
Kenali 5 Jenis Cerebral Palsy dan Klasifikasinya
Hari Kesadaran Cerebral Palsy (6 Oktober) mengingatkan pentingnya mengenali lima jenis dan klasifikasi berda...
Kenali Perbedaan 4D: Disleksia, Diskalkulia, Dispraksia, Disgrafia
Empat kondisi neuroperkembangan—disleksia, diskalkulia, dispraksia, disgrafia—memengaruhi cara belajar dan b...
Cara Mencegah Meningitis pada Bayi dan Balita
Imunisasi rutin dan kebiasaan hidup bersih adalah kunci mencegah meningitis pada bayi dan balita. Kenali gej...
Mengenal Meningitis Belt: Sabuk Wabah Meningitis di Afrika
Meningitis belt di Afrika sub-Sahara rentan wabah; WHO laporkan 21.526 dugaan kasus dan 971 kematian pada 20...
Flying Doctor Indonesia Perluas Akses Evakuasi Medis
Flying Doctor Indonesia dirintis Irwan dan dr. Vika sejak 2020 untuk membuka akses evakuasi medis nasional d...