Ekonomi

Rupiah Kembali Menguat, Dibuka Rp17.880 per Dolar AS

Bagikan:
Grafik kurs rupiah menguat versus dolar AS di level Rp17.880

Rupiah kembali menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026. Nilai tukar dibuka naik 0,11 persen atau 19 poin ke posisi Rp17.880 per dolar AS, sementara pelaku pasar menunggu data cadangan devisa dan risalah pertemuan The Fed yang dirilis malam ini.

Pembukaan pasar

Data pembukaan menunjukkan rupiah melanjutkan penguatan dari penutupan Selasa yang berada di Rp17.899 per dolar AS, naik 0,10 persen. Pergerakan awal perdagangan relatif terbatas, mencerminkan kondisi pasar yang berhati-hati menjelang rilis data penting.

Faktor pendorong pergerakan

Analis melihat beberapa faktor yang mempengaruhi nilai tukar hari ini. Pertama, indeks dolar AS turun ke level 101,83, turun 0,33 persen dari hari sebelumnya, didorong oleh penguatan euro.

Kedua, imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak turun. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat di kisaran 5,26–5,28 persen, sedikit melandai dari level 5,30–5,34 persen sebelumnya. Penurunan imbal hasil itu menekan permintaan dolar dan membantu rupiah menguat.

Sentimen pasar dan data yang ditunggu

Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data cadangan devisa Indonesia siang ini. Selain itu, perhatian juga tertuju pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan memberikan petunjuk arah kebijakan moneter The Fed.

Nilai tukar rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS hari ini, meski penguatannya terbatas,

Malam ini, mereka juga menunggu risalah pertemuan Federal Open Market Committee, hasil pertemuan The Fed bulan September,

Proyeksi pergerakan

Berdasarkan kondisi saat ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan potensi fluktuasi jika data cadangan devisa atau risalah FOMC memberikan kejutan bagi pasar.

Investor lokal dan asing kemungkinan menyesuaikan posisi hingga sinyal kebijakan moneter AS lebih jelas. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada data domestik dan interpretasi pasar terhadap risalah The Fed.

Dengan perkembangan tersebut, volatilitas masih mungkin terjadi sepanjang hari, sehingga pelaku pasar disarankan memantau data resmi dan pergerakan imbal hasil obligasi AS sebagai indikator lanjutan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait