Rupiah Menguat ke Rp17.899 per Dolar AS saat Penutupan
Rupiah menguat 0,10 persen atau 18 poin ke posisi Rp17.899 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini. Penguatan ini didorong oleh pelemahan dolar AS setelah data ekonomi AS yang lebih lemah serta kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.
Pergerakan dolar AS dan data ekonomi
Indeks dolar AS turun menjelang penutupan ke level 102,04, dari posisi tertinggi harian 102,28. Pelemahan ini dipengaruhi oleh rilis data inflasi belanja konsumsi pribadi (PCE) dan data ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang lebih lemah dari perkiraan.
"Hal tersebut mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed di bulan Oktober ini," ucap Ibrahim.
Penurunan ekspektasi pengetatan moneter The Fed membuat dolar melemah, sehingga membuka ruang bagi mata uang negara lain termasuk rupiah untuk menguat.
Dampak konflik Timur Tengah dan harga minyak
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya serangan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman, menambah ketidakpastian pasar global. Meski demikian, posisi Houthi dilaporkan masih kuat karena menguasai wilayah pegunungan strategis.
Konflik yang berlarut diperkirakan berpotensi memicu fluktuasi harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan risiko volatilitas pasar keuangan secara keseluruhan.
Faktor domestik: proyeksi Bank Dunia
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati revisi proyeksi Bank Dunia untuk perekonomian Indonesia. Lembaga itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada di angka 5,2 persen, naik 0,5 persentase dari proyeksi sebelumnya.
"Revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena melihat aktivitas ekonomi Indonesia. Peningkatan program prioritas pemerintah, investasi, dan besarnya subsidi energi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi," ujar Ibrahim mengutip laporan Bank Dunia.
Bank Dunia juga memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2026, sementara inflasi diperkirakan tetap dalam kisaran target 2,5±1 persen.
Katalis pasar dan prospek ke depan
Pasar kini menantikan risalah pertemuan The Fed bulan September dan data klaim awal tunjangan pengangguran AS yang akan dirilis pekan ini. Selain itu, perkembangan konflik Timur Tengah dan data domestik akan terus menjadi pemicu volatilitas.
Faktor yang dipantau pelaku pasar meliputi:
- Rilis data ekonomi AS terbaru dan risalah The Fed.
- Perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya pada harga minyak.
- Data ekonomi domestik serta proyeksi lembaga internasional.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, rupiah berpotensi mengalami fluktuasi jangka pendek. Pelaku pasar disarankan memantau rilis data dan perkembangan geopolitik untuk menilai arah pasar selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
OJK Proyeksikan Industri Pembiayaan Tumbuh 2–4% hingga 2026
OJK proyeksikan industri perusahaan pembiayaan tumbuh 2–4% sampai akhir 2026; piutang tercatat Rp514,08 tril...
IHSG Naik 20,27 Poin, Stimulus Rp31 T Dukung Prospek Pasar
IHSG menguat 20,27 poin di pembukaan 5 Okt 2026; pemerintah siapkan stimulus Rp31 triliun yang mendukung pro...
Surplus Dagang Agustus 2026 Melonjak Jadi USD3,55 Miliar
Neraca perdagangan Agustus 2026 surplus USD3,55 miliar, ditopang ekspor lemak/minyak nabati, bahan bakar min...
BPK Rangkum 762 Laporan Pemeriksaan pada IHPS I 2026
BPK merangkum 762 LHP dalam IHPS I 2026; mayoritas mendapat opini WTP, Isma Yatun dorong tindak lanjut rekom...
Australia-Indonesia Perkuat Riset Material Berkelanjutan dan Manufaktur
Forum 24–25 Sept 2026 di Jakarta satukan peneliti Australia-Indonesia untuk kembangkan material daur ulang d...
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.570.000 per Gram
Emas Antam turun Rp10.000 per gram pada 6 Oktober 2026, harga 1 gram kini Rp2.570.000; simak daftar harga pe...