Teknologi

World Bank: Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,2% di 2026, Tertinggal soal AI

Bagikan:
Grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan perbandingan integrasi investasi AI di kawasan

Jakarta. World Bank memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026, setelah merevisi naik 0,5 poin persentase sejak proyeksi April. Laporan Oktober mencatat dorongan dari belanja publik, subsidi energi, dan program prioritas pemerintah, namun Indonesia belum menikmati manfaat dari integrasi ke rantai nilai terkait artificial intelligence (AI).

Proyeksi dan faktor pendorong

Revisi naik proyeksi didorong oleh beban akibat harga energi yang lebih kecil dari perkiraan serta kenaikan belanja negara yang terkait program prioritas. Pertumbuhan domestik juga kuat, terutama konsumsi swasta dan lonjakan belanja publik pada awal tahun.

Indonesia mencatat pertumbuhan 5,4% pada paruh pertama 2026, meningkat dari 5,1% di 2025. World Bank menyebut ini sebagai rata-rata dua kuartal terkuat sejak 2022.

Keterlambatan dalam rantai nilai AI

Meskipun tumbuh relatif solid, Indonesia belum terintegrasi secara mendalam ke rantai nilai global AI. Sebaliknya, negara lain di kawasan mendapat dorongan pertumbuhan dari investasi dan ekspor berteknologi tinggi yang terkait AI.

"Indonesia has not benefited from AI-related value chain integration, but its domestic demand growth is healthy,"

Perbandingan regional: Malaysia, Vietnam, Filipina

World Bank menilai kawasan East Asia and Pacific (EAP) akan tumbuh 4,5% pada 2026, dengan peningkatan 0,3 poin yang didorong oleh negara-negara peserta rantai AI. Beberapa contoh:

  • Malaysia: tumbuh 5,7% pada paruh pertama 2026; proyeksi penuh tahun ini 5,1%.
  • Vietnam: menjadi yang tercepat di paruh pertama 2026 dengan pertumbuhan 8,3%; proyeksi 7,4% penuh tahun 2026.
  • Filipina: mendapat manfaat dari lonjakan investasi AI, ekspor barang naik 13% pada paruh pertama 2026.

Ekspor alat listrik dan elektronik Malaysia, hampir setengah dari total ekspor, mendapat dorongan kuat oleh investasi AI. Di kawasan, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam mengekspor gabungan sekitar $1,4 triliun barang terkait AI dalam 12 bulan hingga April.

Risiko fiskal dan neraca eksternal

World Bank memperingatkan adanya tekanan fiskal dan eksternal. Defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar menjadi sekitar 1,5% dari PDB pada 2026, karena kombinasi kebijakan yang mendukung pertumbuhan jangka pendek.

Kinerja industri juga menunjukkan pelemahan momentum. Indeks manajer pembelian manufaktur turun ke 49,3 pada Agustus, sementara kepercayaan konsumen turun ke 116,8 pada Juli.

Prospek jangka menengah

Seiring pelonggaran stimulus fiskal, World Bank memproyeksikan pertumbuhan Indonesia bergantung lebih besar pada investasi swasta dalam menengah. Proyeksi pertumbuhan tercatat 5,2% pada 2026–2027 dan naik tipis menjadi 5,3% pada 2028.

"The region’s dependence on AI-related industrial activity has been a source of strength, but it could become a weakness if global AI activity slows or reverses,"

Secara keseluruhan, Indonesia memulai 2026 dengan kondisi makro yang relatif kuat, namun tantangan integrasi ke rantai nilai AI dan tekanan fiskal-eksternal perlu diatasi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait