Teknologi

NASA Petakan 'Zero Curtain' Arktik, Risiko Pelepasan Karbon

Bagikan:
Lanskap Arktik bersalju dengan lapisan tanah beku menandakan fenomena zero curtain

NASA merilis hasil pemetaan fenomena zero curtain di kawasan Arktik yang menjelaskan mengapa tanah tidak langsung membeku saat musim berganti. Penelitian yang dipublikasikan pada 25 Agustus 2026 ini menggunakan kecerdasan buatan untuk memetakan periode tanah yang berada di dekat titik beku selama hari hingga minggu, dan menyoroti potensi pelepasan 1,9 triliun ton karbon organik dari permafrost.

Apa itu zero curtain dan bagaimana terjadi?

Zero curtain adalah periode ketika suhu tanah tetap mendekati titik beku karena proses pembekuan atau pencairan air di dalam tanah. Pada musim gugur, air yang membeku melepaskan panas laten sehingga tanah tetap hangat lebih lama sebelum mendingin. Sebaliknya pada musim semi, energi panas dipakai untuk mencairkan es tanah sehingga suhu permukaan tetap mendekati titik beku lebih lama.

Metode: GeoCryoAI dan data historis

Tim peneliti memperkenalkan sistem kecerdasan buatan bernama GeoCryoAI. Sistem ini menggabungkan berbagai sumber data, termasuk pengamatan satelit, keluaran model iklim, dan pengukuran lapangan yang dikumpulkan sejak 1891. Dengan integrasi data panjang tersebut, GeoCryoAI mampu menghasilkan peta terperinci kondisi zero curtain di seluruh Arktik.

Data yang dipakai antara lain:

  • Pengamatan satelit historis
  • Keluaran model iklim dan geofisika
  • Pengukuran lapangan dan observasi tanah

Temuan utama: musim semi lebih lama, kelembapan pengaruh besar

Analisis menunjukkan periode zero curtain pada musim semi umumnya berlangsung lebih lama dibandingkan saat pembekuan pada musim gugur. Selain itu, wilayah dengan tingkat kelembapan tanah lebih tinggi cenderung mengalami periode tersebut lebih panjang. Temuan ini membantu ilmuwan memahami dinamika pembekuan dan pencairan tanah di tengah pemanasan global.

Dampak terhadap pelepasan karbon

Tanah lembap yang mempertahankan kondisi mendekati titik beku memungkinkan mikroorganisme tetap aktif lebih lama. Aktivitas biologis ini dapat melepaskan karbon dalam bentuk karbon dioksida dan metana ke atmosfer. Para peneliti menekankan bahwa permafrost Arktik menyimpan sekitar 1,9 triliun ton karbon organik, hampir dua kali lipat jumlah karbon yang kini ada di atmosfer.

Pemantauan lanjutan dengan NISAR dan prospek

Teknologi GeoCryoAI didesain untuk memanfaatkan data dari misi NISAR, kerja sama antara NASA dan ISRO. Data NISAR diharapkan memperkaya pemantauan perubahan lanskap beku dan memperbaiki estimasi pelepasan karbon akibat pencairan permafrost. Peta terperinci ini menjadi alat penting bagi peneliti dan pembuat kebijakan untuk merencanakan mitigasi perubahan iklim.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang durasi dan distribusi zero curtain, ilmuwan dapat memperkirakan respons karbon tanah terhadap pemanasan global dan menyusun langkah pengawasan yang lebih efektif.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait