Mentan Tantang Kampus Perkuat Inovasi Pertanian demi Superpower Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menantang perguruan tinggi untuk menghasilkan inovasi pertanian yang siap diterapkan guna memperkuat ketahanan pangan dan menjadikan Indonesia sebagai superpower pangan. Pernyataan itu disampaikan pada Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Minggu, 28 Juni 2026.
Ajakan Kolaborasi di Hadapan Akademisi
Forum KSTI 2026 diikuti lebih dari 2.600 peserta, termasuk rektor, dosen, ilmuwan, dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Amran menegaskan riset kampus tidak boleh berhenti di laboratorium dan harus dihilirkan agar berdampak langsung bagi petani.
"Insya Allah, kita akan berkolaborasi ke depan. Kita akan tingkatkan kolaborasi yang selama ini sudah dibangun,"
Contoh Inovasi yang Sudah Ada
Amran memberi contoh konkret hasil riset yang telah meningkatkan produktivitas. Produk riset padi dari salah satu perguruan tinggi berhasil mencapai produktivitas 13,9 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional sekitar 5,5 ton per hektare. Di bidang peternakan, disebutkan pula pengembangan sapi berbobot hingga satu ton.
"Kami dengan IPB mengembangkan benih unggul. Semua inovasi kampus harus kita hilirkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani,"
Ruang Lingkup Kolaborasi dan Teknologi yang Dikembangkan
Kementerian Pertanian sudah menjalin kerja sama dengan banyak perguruan tinggi. Kolaborasi itu meliputi pengembangan varietas, mekanisasi, dan teknologi pascapanen untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
- Benih unggul
- Traktor dan alat mesin pertanian (alsintan)
- Alat panjat kelapa
- Pengembangan peternakan ayam dan sapi
- Teknologi untuk jagung, gambir, dan ubi
- Teknologi pengering dan pascapanen
Respons Pemerintah dan Arah Kebijakan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyambut ajakan tersebut dan berkomitmen menginventarisasi hasil riset perguruan tinggi yang siap dihilirkan bersama Kementan. Langkah ini menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengubah riset kampus menjadi teknologi yang memperkuat kemandirian pangan nasional.
Menurut Amran, peluang Indonesia menjadi superpower pangan besar apabila dukungan riset dan inovasi terus diperkuat serta diimplementasikan di lapangan.
Implikasi dan Langkah Ke Depan
Hilirisasi riset menjadi prioritas agar inovasi akademik memberikan manfaat ekonomi nyata bagi petani. Selanjutnya diperlukan mekanisme cepat untuk transfer teknologi, skema pembiayaan, dan pilot project yang melibatkan petani, pelaku usaha, dan kampus.
Dengan sinergi yang lebih kuat antara kementerian dan perguruan tinggi, pemerintah berharap inovasi bisa mempercepat transformasi sektor pertanian dan meningkatkan kemandirian pangan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Prabowo: Negara Maju Harus Berani Evaluasi Diri
Presiden Prabowo minta negara berani akui masalah dan menindaklanjuti masukan, saat menutup Sarasehan KSTI d...
Mensos Pimpin Ikrar 7.588 Petugas Sensus Ekonomi di Sumsel
Mensos Saifullah Yusuf memimpin ikrar 7.588 petugas Sensus Ekonomi 2026 di Sumsel, menekankan data akurat me...
Mensesneg: Presiden Tambah Anggaran Rp4 Triliun untuk Riset
Mensesneg pastikan Presiden Prabowo tambahkan anggaran riset Rp4 triliun dan siapkan peta jalan untuk integr...
Akademisi Apresiasi Arahan Prabowo untuk Pembangunan Riset
Akademisi menyambut positif arahan Presiden Prabowo di penutupan KSTI 28 Juni 2026 yang mendorong optimisme...
Bea Cukai Sita 4,8 Ton Narkoba dari Luar Negeri
DJBC menyita 4,8 ton narkotika dari luar negeri dan mengungkap 800 kasus hingga Juni 2026; Soekarno-Hatta te...
Prabowo Instruksikan Libatkan Profesor untuk Atasi Persoalan Bangsa
Presiden Prabowo memerintahkan pembentukan satgas akademisi untuk melibatkan guru besar dan dosen dalam solu...