Qodari: 3 Cara Pemerintah Membaca Opini Publik
Pemerintah menggabungkan survei, analisis media sosial, dan observasi lapangan untuk membaca opini publik secara komprehensif. Demikian disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, saat tampil di Pro3 Siniar di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.
Tiga pendekatan utama
Qodari memaparkan tiga pendekatan yang kerap dipakai pemerintah untuk mengetahui respons masyarakat. Ketiganya saling melengkapi dan diperlukan untuk menangkap dinamika yang berubah cepat.
- Survei — instrumen sistematis untuk mengukur pandangan dan sikap publik.
- Analisis media sosial — memantau percakapan daring yang menjadi sumber respons cepat masyarakat.
- Observasi lapangan — turun langsung ke daerah untuk melihat kondisi nyata yang tak selalu tercermin dalam data.
“Kalau untuk opini publik itu namanya survei. Kalau untuk media sosial, terminologi yang sering dipakai itu analisis,”
Peran data agregat
Selain tiga pendekatan tersebut, Qodari menekankan pentingnya data agregat. Data dari Badan Pusat Statistik dan indikator ekonomi membantu memberikan konteks lebih luas untuk hasil survei dan analisis media sosial.
“Jadi saya baca hasil survei dan analisis. Kemudian sering turun ke daerah untuk mengontrol situasi dan kondisi di lapangan,”
Teknologi mengubah lanskap
Qodari mengatakan perkembangan teknologi memperkaya bahan yang dapat dimanfaatkan pemerintah. Metode yang digunakan sebelum era media sosial kini dianggap tidak lagi cukup.
Dalam praktiknya, analisis percakapan di platform digital memberi informasi cepat tentang sentimen dan respons publik terhadap kebijakan atau peristiwa tertentu. Namun, Qodari mengingatkan bahwa data daring harus selalu diperbandingkan dengan kondisi nyata di lapangan.
Sinergi sumber untuk gambaran utuh
Menurut Qodari, kombinasi survei, social media listening, dan observasi lapangan menghasilkan gambaran yang lebih utuh tentang opini publik. Ketiganya saling mengisi: survei memberi angka yang terukur, analisis daring menangkap tren percakapan, dan lapangan memastikan validitas temuan.
Pendekatan beragam itu memungkinkan pemerintah merespons isu publik dengan lebih tepat dan cepat. Langkah ini juga membantu mengidentifikasi masalah yang belum terlihat lewat data kuantitatif semata.
Penerapan metode terpadu dianggap penting untuk merancang kebijakan yang responsif dan berlandaskan bukti di tengah perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Korlantas Gelar Olahraga dan Perlombaan Sambut HUT ke-81 RI
Korlantas Polri menggelar olahraga bersama dan perlombaan di Lapangan NTMC pada 14 Agustus 2026 untuk menyam...
Sespimmen Polri Dorong Ketahanan Pangan dan Stabilkan Harga di Sumedang
Sespimmen Polri adakan FGD di Sumedang (14 Agustus 2026) untuk dorong ketahanan pangan, stabilkan harga semb...
Bubaran Sidang Tahunan, Lalu Lintas Gerbang Pemuda Padat Merayap
Usai Sidang Tahunan MPR/DPR 2026, lalu lintas di Gerbang Pemuda padat merayap; TNI-Polri dikerahkan dan jala...
Program 2027: Puan Tekankan Satu Kesatuan Politik Pembangunan
Puan Maharani minta Program 2027 'Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat' dijalankan sebagai satu kesatu...
Prabowo: Bansos Gratis dan Mudah Diakses lewat Digitalisasi
Prabowo pastikan warga tak mampu tak perlu bayar saat mengakses bansos; pendaftaran digital berjalan di 153...
Menkomdigi: SPLP Kunci Digitalisasi Perlinsos agar Hak Tepat
Menkomdigi Meutya Hafid meninjau uji coba digitalisasi Perlinsos di DIY; SPLP diharapkan memastikan penerima...