Marhaenisme Relevan Hadapi Ketimpangan Ekonomi Digital
JEMBER — Delapan puluh satu tahun setelah kemerdekaan, tantangan bangsa kini adalah memastikan keadilan sosial. Airlangga Pribadi Kusuma menilai ketimpangan muncul dalam bentuk ekonomi digital. Pernyataan itu disampaikan saat bedah buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z di Aula DPC PDI Perjuangan Jember, Senin (29/6/2026) malam.
Marhaenisme sebagai alat analisis
Airlangga menjelaskan, Bung Karno memandang kemerdekaan bukan sekadar pencapaian politik. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah sarana untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu, pemikiran Marhaenisme menurutnya harus dipakai untuk membaca realitas kontemporer, bukan hanya sebagai warisan sejarah.
"Kita merdeka dulu, karena kita tidak punya negara, kita tidak punya otoritas politik untuk mengurus kehidupan rakyat,"
Wajah baru ketimpangan: platform digital
Menurut Airlangga, bentuk ketimpangan kini tidak lagi dominan melalui penguasaan tanah atau alat produksi. Sebaliknya, sistem digital menciptakan ketidakpastian ekonomi. Pekerja yang tampak memiliki modal kecil, seperti kendaraan dan ponsel, tetap berada dalam posisi rentan karena mekanisme platform.
"Mereka memiliki alat produksinya sendiri. Tetapi besok belum tentu bisa memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup,"
Contoh nyata: pengemudi ojek daring
Airlangga memberi contoh pengemudi ojek daring. Secara kasat mata mereka memiliki kendaraan dan telepon sebagai sarana produksi. Namun pendapatan bergantung pada algoritma dan kebijakan platform yang sulit dikendalikan oleh pekerja.
Gambaran itu, kata Airlangga, menunjukkan perlunya memahami Marhaenisme sebagai lensa untuk mengidentifikasi siapa yang rentan dan bagaimana negara mesti bertindak.
Dialog generasi muda
Diskusi yang menjadi rangkaian Bulan Bung Karno ini dihadiri puluhan peserta, terutama milenial dan Gen-Z. Forum juga menghadirkan Juru Bicara DPP PDI Perjuangan, Aryo Seno Bagaskoro, yang membuka ruang dialog bagi generasi muda untuk mengevaluasi relevansi pemikiran Bung Karno terhadap tantangan masa kini.
Airlangga menegaskan bahwa makna kemerdekaan baru nyata jika mampu mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Ia mendorong agar pemikiran Marhaenisme dipakai sebagai dasar kebijakan untuk menghadapi dinamika ekonomi digital.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Blitar Bidik Juara Piala Presiden Jatim untuk Dua Tim U-12/U-10
Yudi Meira melepas Bima Putra U-12 dan Putra Batara U-10, menargetkan kedua tim juara Festival Piala Preside...
Kualitas Jadi Kunci Perempuan Berdaya di Politik
Sri Untari menegaskan kualitas dan kompetensi sebagai syarat agar perempuan di parlemen mampu menghasilkan k...
Peringatan Bulan Bung Karno di Lumajang: Doa dan Dialog
Doa bersama dan dialog Peringatan Bulan Bung Karno digelar di Lumajang pada 30 Juni 2026 untuk mengenang Soe...
Banyuwangi Studi Banding ke Bojonegoro untuk Raperda Dana Abadi
Bapemperda DPRD Banyuwangi melakukan studi banding ke BPKAD Bojonegoro pada 26 Juni 2026 untuk mematangkan r...
DPRD Surabaya Awasi Renovasi RTLH di Tambak Asri
Tri Didik Adiono meninjau renovasi RTLH di Tambak Asri, memastikan bantuan tepat sasaran dan meningkatkan ku...
Tri Didik Tinjau RTLH di Tambak Asri, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Tri Didik Adiono meninjau RTLH di Tambak Asri (30/6/2026) untuk memastikan renovasi rumah tepat sasaran dan...