Nasional

LSF: 72% Warga Kini Menonton Lewat Internet

Bagikan:
Acara GNBSM LSF dan pemutaran film di CGV Depok Mall untuk edukasi literasi media

Lembaga Sensor Film (LSF) menyatakan sekitar 72 persen masyarakat Indonesia kini mengakses tayangan melalui internet, termasuk layanan OTT, video on demand, dan media sosial. Pernyataan itu disampaikan berdasarkan Survei Nasional LSF 2024 dan disampaikan saat pembukaan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di CGV Depok Mall, Selasa 21 Juli 2026. LSF menilai pergeseran ini meningkatkan kebutuhan literasi dan budaya sensor mandiri untuk melindungi kelompok rentan.

Hasil survei: perubahan pola konsumsi dan implikasinya

Menurut LSF, kemudahan akses konten digital membuat masyarakat lebih sering menonton lewat platform daring dibanding saluran tradisional. Peralihan ini memunculkan tantangan baru dalam pengendalian isi tayangan karena tidak semua konten mengalami proses kurasi. LSF mengingatkan bahwa tanpa filtrasi, risiko paparan konten tidak layak meningkat, terutama bagi anak-anak.

Risiko bagi anak dan pentingnya sensor mandiri

LSF menegaskan anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan konten dewasa. Naswardi, Ketua LSF RI, menjelaskan bahwa media sosial belum tentu melewati proses filtrasi seperti film bioskop atau program televisi. Ia mengingatkan publik menerapkan sensor mandiri saat memilih tontonan.

"Mari menjadi bagian dari literasi budaya sensor mandiri, menjadi bagian dari duta yang terus memberikan literasi kepada orang-orang terdekat kita. Dengan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia kita masing-masing,"

LSF menyebut beberapa jenis konten yang berisiko bagi anak-anak sebagai berikut:

  • Pornografi
  • Kekerasan
  • Perjudian
  • Narkotika
  • Konten sensitif lain yang tidak terkurasi

Upaya LSF: regulasi, sertifikasi, dan program literasi

LSF menyatakan setiap tahun mereka menerbitkan sekitar 41 ribu Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) sebagai bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Selain itu, film dari 33 negara yang masuk ke Indonesia juga menjalani proses penilaian sebelum diedarkan. Untuk memperkuat literasi publik, LSF menginisiasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang dikombinasikan dengan pemutaran film nasional.

Pada acara di Depok, LSF memutar film "Jangan Buang Ibu" dan "Takkan Kubiarkan Kau Menangis" sebagai bagian dari edukasi. Kegiatan dihadiri oleh 332 mahasiswa dan anggota komunitas yang diharapkan menjadi agen perubahan dalam mempraktikkan budaya sensor mandiri di lingkungan masing-masing.

Dukungan pemerintah daerah

Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menyatakan Pemerintah Kota Depok mendukung penuh pelaksanaan GNBSM. Ia menilai penunjukan Depok sebagai lokasi pencanangan bagian dari strategi meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Chandra menekankan bahwa film memiliki fungsi ganda sebagai hiburan sekaligus media pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

Ia menambahkan bahwa film yang diputar menyampaikan pesan penting tentang komunikasi antara orang tua dan anak, sehingga mendukung tujuan gerakan untuk memperkuat keterlibatan keluarga dalam memilih tontonan.

Prospek dan langkah ke depan

Perubahan konsumsi menuju platform digital diperkirakan akan terus berlangsung seiring kemajuan teknologi dan ketersediaan paket data. LSF mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku platform digital, komunitas, dan keluarga untuk memperkuat literasi media. Tanpa langkah bersama, risiko paparan konten tidak layak pada anak diperkirakan meningkat, sehingga upaya edukasi dan penerapan sensor mandiri tetap menjadi prioritas.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait