Lokal

Literasi digital kunci cegah perundungan anak SD, kata guru Medan

Bagikan:
Guru mendampingi murid dalam kelas sambil menjelaskan etika penggunaan media sosial

Medan — Guru di SDN 101799 Delitua mengingatkan bahwa paparan konten media sosial meningkatkan risiko perundungan di sekolah dasar. Vera Dayana menilai anak SD mudah meniru candaan atau ejekan di platform digital. Kondisi ini membuat pendidikan karakter, pendampingan orang tua, dan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak agar perilaku negatif tidak terbawa ke lingkungan sekolah.

Dampak konten digital pada anak SD

Anak usia sekolah dasar masih dalam perkembangan emosional dan sosial. Mereka belum selalu mampu membedakan antara lelucon yang ringan dan tindakan yang melukai perasaan orang lain. Vera mengatakan pengaruh konten digital tampak lewat kata-kata ejekan, prank yang merendahkan fisik, dan komentar bernada olokan yang kemudian ditiru di sekolah.

“Anak-anak usia sekolah dasar masih belajar memahami empati dan konsekuensi dari setiap tindakan. Ketika mereka meniru konten yang dilihat di media sosial, guru perlu memberikan pemahaman bahwa sesuatu yang dianggap lucu di internet belum tentu menyenangkan bagi orang lain.”

Respons guru: edukatif, bukan hanya hukuman

Vera menekankan guru harus merespons perundungan secara tenang dan edukatif. Pendekatan dimulai dengan berbicara personal untuk menggali alasan di balik perilaku murid. Tujuannya agar anak sadar akan kesalahan dan dampak emosional bagi korban.

“Guru harus tegas menghentikan perilaku yang menyakiti orang lain, tetapi penanganannya juga harus mendidik. Anak perlu dibantu memahami mengapa tindakannya salah, bagaimana perasaan temannya, dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan.”

Selain itu, Vera menilai hukuman saja tidak cukup. Sekolah wajib melindungi korban dan membimbing pelaku agar tidak mengulang perbuatan tersebut.

Menanam literasi digital sejak dini

Literasi digital dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran karakter tanpa menjadi mata pelajaran terpisah. Guru bisa memakai cerita, ilustrasi, atau animasi sederhana untuk mengajarkan perbedaan antara perilaku yang baik dan berbahaya. Kebiasaan menilai dulu sebelum mengetik komentar atau meniru tren di media sosial harus dibiasakan.

Perlindungan korban dan pemulihan hubungan

Jika perundungan terjadi, prioritas sekolah adalah keselamatan korban. Sekolah perlu menerapkan pendekatan pemulihan hubungan dan bimbingan bagi pelaku. Dalam kasus yang sesuai, restorative justice dapat dipertimbangkan, namun proses tidak boleh memaksa korban berdamai sebelum merasa aman.

Peran orang tua dan kolaborasi sekolah-rumah

Orang tua berperan penting mengawasi konten digital anak. Pendampingan saat memakai gawai, pengaturan akses sesuai usia, dan pembatasan waktu layar membantu mengurangi paparan konten negatif. Komunikasi rutin antara guru dan orang tua memungkinkan deteksi perubahan perilaku lebih cepat dan penanganan terkoordinasi.

Menguatkan lingkungan sekolah yang aman

Vera mengingatkan bahwa membangun sekolah aman dan inklusif membutuhkan konsistensi seluruh pihak. Selain menyampaikan materi pelajaran, guru membantu murid membangun empati, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Dengan penguatan literasi digital dan pendampingan emosional, anak diharapkan mampu menyikapi pengaruh media sosial secara lebih bijak.

Upaya bersama antara sekolah dan keluarga menjadi langkah penting membentuk generasi muda yang mampu berinteraksi sehat di dunia nyata maupun ruang digital.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait