MPR Dorong Lengger Banyumas Jadi Warisan Budaya Dunia
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pelestarian seni tradisi lengger Banyumas dan mengajak pemangku kepentingan menguatkan peran budaya dalam membentuk karakter kebangsaan. Pernyataan itu disampaikan saat kegiatan penyerapan aspirasi bertajuk "Lengger Banyumas: Menjaga Warisan, Merawat Kesadaran Bangsa" pada Selasa, 16 Juni 2026, di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Pelestarian lengger sebagai fondasi kebangsaan
Lestari menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal mempertahankan seni, tetapi juga menjaga fondasi moral dan kesadaran berbangsa. Menurutnya, bangsa yang menghargai perbedaan dan memiliki kedekatan dengan akar budaya memiliki modal penting untuk memperkuat demokrasi.
Dia mengingatkan bahwa demokrasi tidak melulu soal kontestasi politik atau pemilu, melainkan membutuhkan nilai-nilai budaya yang mengikat masyarakat. Dalam sambutannya, Lestari menekankan pentingnya peran budaya sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Ketika kita bicara lengger Banyumasan. Sesungguhnya kita sedang bicara bagaimana menjaga warisan budaya sekaligus merawat kesadaran kebangsaan,"
Pengakuan, penghargaan, dan langkah ke depan
Lestari memberikan apresiasi kepada seniman dan budayawan Banyumas yang konsisten melestarikan seni lengger beserta nilai-nilai filosofisnya. Ia mendorong agar lengger Banyumas tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga diusulkan ke jenjang internasional.
"Pengakuan tersebut penting sebagai bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya bangsa sekaligus upaya memperkuat identitas budaya Indonesia di tingkat global,"
Lengger Banyumas sebelumnya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019, dan upaya pengajuan ke daftar warisan dunia menjadi langkah lanjutan yang diharapkan dapat meningkatkan perhatian serta perlindungan.
Tantangan: keterhubungan generasi muda dengan budaya
Menurut Lestari, tantangan utama bukan sekadar hilangnya kesenian, melainkan merosotnya keterhubungan generasi muda dengan akar budayanya sendiri. Hal ini menuntut strategi pelestarian yang melibatkan berbagai pihak.
Ia mengajak pemerintah, komunitas budaya, dunia pendidikan, dan masyarakat luas menjadikan pelestarian budaya sebagai gerakan bersama. Pendekatan lintas sektor dinilai krusial untuk menjaga agar warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Penutup: budaya sebagai identitas dan kekuatan
Pesan Lestari menegaskan kembali bahwa pemajuan kebudayaan adalah amanat konstitusi dan bagian dari pembangunan nasional. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat dan mampu memelihara warisannya agar tetap relevan bagi generasi sekarang dan mendatang.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat dan mampu menjaga warisannya tetap hidup. Di tengah perubahan zaman,"
Berita Terkait
Pigai Tegaskan MBG Bukan Pelanggaran HAM
MenHAM Natalius Pigai menegaskan MBG adalah pemenuhan hak dasar, bukan pelanggaran HAM, sambil mendukung eva...
ESDM dan DPR Sepakati Asumsi Energi untuk RAPBN 2027
ESDM dan DPR menyepakati asumsi energi RAPBN 2027, termasuk ICP USD70–95, lifting 1.556–1.610 ribu BOEPD, se...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, Dipicu Sesar Sausu
BMKG: Gempa magnitudo 6,7 mengguncang Torue, Parigi Moutong (16 Juni 2026); dipicu Sesar Sausu dan tidak ber...
Target Akhir Juni, Danantara Rampungkan Laporan Keuangan Konsolidasi
Danantara menargetkan publikasi laporan keuangan konsolidasi pada akhir Juni 2026 setelah selesaikan konsoli...
GKJ Rayakan HLUN 2026: Tegaskan Peran Lansia dalam Gereja
GKJ menggelar HLUN 2026 di Jakarta untuk menegaskan peran lansia sebagai pilar kebijaksanaan dan penghubung...
ESDM Fokuskan Anggaran 2027 untuk Program Pro-Rakyat
ESDM mengarahkan anggaran 2027 untuk program yang langsung dirasakan masyarakat, fokus pada listrik desa, ja...