Prabowo Terima Lukashenko di Istana, Menandai 30 Tahun Hubungan RI-Belarus
Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026. Pertemuan ini menandai babak baru hubungan diplomatik kedua negara yang telah berjalan sejak 1993 dan bertujuan memperkuat kerja sama ekonomi, pertanian, serta ketahanan pangan.
Sejarah singkat hubungan diplomatik
Hubungan resmi Indonesia dan Belarus dibuka pada 18 Juni 1993 saat Belarus masih menata diri pasca-Uni Soviet. Awalnya komunikasi kedua negara masih terbatas pada penjajakan politik dan diplomasi, tetapi secara bertahap berkembang ke bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Pada awal 2000-an hubungan mulai menguat. Salah satu momentum penting adalah kunjungan Wakil Perdana Menteri Belarus Vladimir Zametalin ke Indonesia tahun 2000. Pada 2009 dibentuk Joint Commission sebagai forum antar-pemerintah untuk menyusun program kerja sama di sektor perdagangan dan teknologi.
Pencapaian dan titik balik
Belarus membuka kedutaan di Jakarta pada 22 Agustus 2011, langkah yang menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai pintu masuk ke pasar ASEAN. Pada 2013 Presiden Aleksandr Lukashenko melakukan kunjungan resmi pertama ke Indonesia, yang memperkuat agenda ekonomi dan investasi kedua negara.
Perayaan 30 tahun hubungan berlangsung pada 2023 dengan forum bisnis bertajuk "Indonesia-Belarus: Towards Closer Economic Cooperation" di Jakarta. Sejak itu kerjasama melebar ke parlemen, pendidikan, budaya, serta diplomasi antarmasyarakat.
Perjumpaan Pemimpin 2025 dan agenda 2026-2030
Pada 15 Juli 2025 Presiden Prabowo mengunjungi Belarus dan bertemu Presiden Lukashenko di Ozyorny, dekat Minsk. Pertemuan tiga jam tersebut fokus pada peluang perdagangan komoditas dan kebutuhan pupuk, khususnya potash dari Belarus.
Undangan Prabowo kepada Lukashenko untuk berkunjung ke Indonesia terealisasi pada kunjungan kenegaraan kali ini. Menjelang pertemuan, kedua negara menyiapkan Road Map for Bilateral Cooperation 2026-2030 sebagai peta jalan kerja sama baru di bidang ekonomi, pertanian, ketahanan pangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Implikasi dan prospek ke depan
Kunjungan Lukashenko mencerminkan upaya Indonesia memperluas kemitraan ke kawasan Eurasia. Bagi Belarus, Indonesia dipandang sebagai mitra strategis dan gerbang ke pasar ASEAN yang besar dan dinamis.
Pertemuan di Istana Merdeka diharapkan melahirkan kesepakatan konkret serta percepatan kerja sama investasi dan perdagangan, terutama di sektor industri dan bahan baku pertanian untuk periode 2026-2030.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ekspor Nikel dan Sawit Dorong Surplus Perdagangan Nonmigas
BPS: surplus perdagangan nonmigas Jan–Mei 2026 mencapai USD 16,31 miliar, ditopang ekspor nikel dan minyak k...
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem: Hujan Lebat Ancama Sejumlah Kota
BMKG keluarkan peringatan cuaca ekstrem 2 Juli 2026; sejumlah kota diperkirakan hujan lebat akibat jalur kon...
BMKG: Risiko Gelombang Panas Ekstrem seperti Eropa Sangat Kecil
BMKG memastikan potensi gelombang panas ekstrem seperti Eropa sangat kecil di Indonesia karena iklim tropis...
Komisi VII Dorong Evaluasi KEK Super Prioritas agar Manfaat Merata
Komisi VII minta evaluasi KEK Super Prioritas agar manfaat investasi dan penyerapan tenaga kerja dirasakan m...
Muhaimin: Pemerataan Ekonomi Kreatif Prioritas Pemerintah
Muhaimin minta ekonomi kreatif tak hanya di Jawa-Bali dan dorong pemanfaatan Sensus Ekonomi 2026 untuk pemet...
Pembangunan SMA Garuda Baru Konawe Selatan Dikebut
Kemdiktisaintek percepat pembangunan SMA Garuda Baru Konawe Selatan; progres 87,58% dan target penyelesaian...