Nasional

Kualitas Udara Kalbar Berbahaya, Jarak Pandang di Bawah 1 Km

Bagikan:
Asap kebakaran hutan di Kalimantan Barat mengurangi jarak pandang dan menurunkan kualitas udara

Kualitas udara di Kalimantan Barat tergolong berbahaya

Kondisi kebakaran dan dampak kualitas udara

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyebut ada 31 titik api yang terdeteksi pada 1 September 2026. Luas area yang diperkirakan terbakar mencapai sekitar 511 hektare, sementara sekitar 135 hektare telah berhasil dipadamkan.

Berdasarkan catatan kami, luas terbakar diperkirakan sebesar 511 hektare lebih dan 135 hektare lebih berhasil dipadamkan. Kualitas udara di sana tergolong berbahaya dengan jarak pandang di bawah satu kilometer.

Asap tebal dari karhutla mengganggu jarak pandang dan menurunkan kualitas udara hingga kategori berbahaya. Kondisi ini memengaruhi aktivitas warga dan layanan publik di wilayah terdampak.

Upaya pemadaman: darat dan udara

Penanganan kebakaran dipusatkan pada operasi darat dan udara. Satgas Darat dikerahkan ke 25 lokasi yang tersebar di delapan kabupaten dan kota prioritas.

Sementara itu, empat helikopter water bombing ditugaskan untuk memperkuat upaya pemadaman. Operasi udara diprioritaskan di Kabupaten Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya.

Operasi udara dilakukan pada lokasi prioritas berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan tim. Empat helikopter water bombing dikerahkan ke Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya.

Patroli udara juga dilaksanakan menggunakan dua armada. Kedua unit tersebut menjalankan dua sorti dengan total waktu pemantauan selama delapan jam 49 menit.

Satgas Udara juga bekerja melalui patroli dengan dua unit armada untuk melakukan pemantauan. Dua sorti dilakukan dengan waktu pemantauan sebesar delapan jam 49 menit.

Hasil operasi udara meliputi penjatuhan sekitar 408.000 liter air, yang membantu memadamkan area seluas sekitar enam hektare di Kalimantan Barat.

Operasi modifikasi cuaca

Satu armada digunakan untuk operasi modifikasi cuaca dengan penyemaian garam sebagai upaya mendorong pembentukan hujan. Sekitar 800 kilogram garam disebar selama 1 jam 35 menit.

Namun demikian, hasil akhir penyemaian ini kurang maksimal karena tidak ada hujan yang terjadi. Kondisi tersebut disebabkan minimnya dan tipisnya bibit-bibit awan yang ada di atmosfer.

Tim menilai kegagalan turun hujan disebabkan oleh ketidakcukupan bibit awan di atmosfer pada lokasi penyemaian.

Dampak pada pendidikan dan kegiatan warga

Asap yang pekat memaksa beberapa sekolah di wilayah terdampak melakukan pembelajaran dari rumah. Meski demikian, sebagian masyarakat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan menyesuaikan kondisi udara.

BNPB menyatakan penanganan terpadu akan terus dilanjutkan untuk mengendalikan karhutla dan mengurangi dampaknya terhadap kesehatan publik dan lingkungan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait