Aktivis: Kritik Ekonomi Medan Harus Berbasis Data
Medan — Aktivis mahasiswa menyoroti kritik anggota DPRD Kota Medan terhadap kinerja Wali Kota Rico Waas, dan menegaskan bahwa setiap tudingan terkait pertumbuhan ekonomi dan inflasi harus disertai data jelas dan dapat diuji publik. Pernyataan itu disampaikan Rabu, 26 Agustus, menyusul pernyataan politikus yang mengaitkan kondisi ekonomi kota dengan kegagalan kepemimpinan.
Kritik harus berdasarkan data
Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Medan periode 2023-2024, Dion Hafiz Maulana Munthe, menilai kritik terhadap pejabat publik sah dalam demokrasi. Namun ia menekankan pentingnya bukti yang konkret untuk menghindari narasi politik yang tidak berdasar.
“Kritikan seorang anggota DPRD Medan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Medan harusnya berbasis data. Jangan sampai kritik pejabat publik justru menjadi konsumsi informasi yang liar dan tidak berdasar,”
Dion mengingatkan data resmi yang pernah dipaparkan Menteri Dalam Negeri pada April 2026, yakni angka pertumbuhan ekonomi Kota Medan sebesar 6,54 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa penilaian kondisi ekonomi tidak boleh hanya berdasar kesan politik.
Program lokal dan aktivitas ekonomi
Dion mengakui ada tantangan kepemimpinan di tingkat kota, tetapi menyebut beberapa kebijakan Pemko yang mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Ia menilai perlu ada evaluasi berbasis indikator untuk melihat efektivitas program tersebut.
- Car Free Day dan Car Free Night
- Pesta kuliner serta bazar UMKM
- Rangkaian acara pemerintahan kota seperti MTQ yang melibatkan pelaku usaha
“Di lapangan kami melihat ada kebijakan yang memberikan ruang kepada pelaku UMKM produktif. Bahkan banyak di antaranya berasal dari kalangan Gen Z,” ujar Dion, sambil mencatat perubahan aktivitas perdagangan malam di kawasan Pasar Petisah yang mulai diramaikan pedagang jajanan.
Inflasi tetap pekerjaan rumah
Meski menekankan pentingnya data, Dion tidak mengabaikan persoalan inflasi yang masih membebani masyarakat. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik yang menunjuk inflasi Kota Medan pada 2026 di kisaran 4 persen lebih.
“Di pasar tradisional banyak ibu-ibu mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok... Harga yang tidak stabil ini adalah persoalan nyata,”
Dion meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak hanya mengandalkan rapat dan laporan administratif. Ia menegaskan langkah pengendalian harus terlihat dampaknya pada harga dan daya beli masyarakat.
Aktivis itu menutup dengan seruan agar semua pihak mengedepankan data dan indikator terukur saat mengkritik kebijakan publik, sehingga perdebatan politik tidak mengaburkan solusi nyata bagi warga Kota Medan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Nias Selatan Serahkan SK Perpanjangan 633 PPPK Paruh Waktu
Pemkab Nias Selatan menyerahkan SK perpanjangan dan SPK kepada 633 PPPK Paruh Waktu pada 19 Oktober sebagai...
Polda Sumut Tangkap 3 Terduga Pelaku Penembakan di Tanjung Morawa
Polda Sumut menangkap tiga terduga pelaku penembakan di Tanjung Morawa pada 19 Oktober; motif masih didalami...
Pemkab Asahan Selesaikan Audit BPK, Raih Peringkat Tiga Realisasi Belanja
Pemkab Asahan menyelesaikan audit BPK Sumut (19/10) dan meraih peringkat tiga realisasi belanja daerah; exit...
Belanja P-APBD Sumut 2026 Melebihi Pendapatan, DPRD Dorong Pinjaman
Belanja P-APBD Sumut 2026 melebihi pendapatan Rp382 miliar; DPRD mendorong pinjaman dan obligasi untuk menut...
Satgas PRR Kirim 18 Alat Berat untuk Pengerukan Sungai di Aceh Tenggara
Satgas PRR Kemendagri menurunkan 18 alat berat dan 8 dump truk untuk pengerukan sungai di Aceh Tenggara, ope...
Orangutan Sumatera Dipulangkan dari India ke Kualanamu
Orangutan Sumatera hasil repatriasi dari India tiba di Bandara Kualanamu dan dibawa ke SRA Langkat untuk men...