Nasional

Krisis Air Bersih Meluas, Masyarakat Diminta Hemat Air

Bagikan:
Warga menampung air di rumah saat krisis pasokan air bersih

Perumda Air Minum menghadapi penurunan pasokan air bersih hingga 25 persen dari kapasitas normal, sehingga warga diminta melakukan penghematan dan mengurangi pengeboran air tanah mandiri untuk menjaga ketersediaan. Imbauan itu disampaikan untuk merespons menurunnya debit permukaan dan tingginya konsumsi di perkotaan.

Imbauan penghematan dari operator air

Direktur Utama Perumda Air Minum mengatakan kebiasaan sederhana di rumah bisa membantu mengurangi tekanan pada pasokan. Ia menekankan pentingnya menutup keran saat kegiatan yang tidak membutuhkan aliran terus-menerus.

"Kebiasaan yang sangat kecil, contohnya ketika orang mau sikat gigi biasanya kerannya dinyalakan terus. Padahal ketika sikat gigi kerannya dimatikan tidak apa-apa."

Penurunan pasokan dan pola konsumsi

Pasokan turun drastis mencapai 25 persen dari kapasitas normal, kata pihak pengelola. Kondisi ini diperparah oleh pola konsumsi masyarakat perkotaan yang masih tinggi, sehingga kebutuhan harian meningkat sementara sumber tidak bertambah.

Amblesan tanah akibat eksploitasi air tanah

Selain berkurangnya debit permukaan, pengambilan air tanah secara masif memperburuk kondisi. Peneliti hidrologi menilai amblesan menjadi tanda kehabisan cadangan air tanah akibat ekstraksi yang terus berlangsung.

"Amblesan tanah di Jakarta itu ibarat rekening bank yang terus-menerus ditarik. Tapi jarang diisi ulang."

Peneliti menjelaskan laju amblesan mencapai sekitar 10 hingga 20 sentimeter per tahun, sebuah indikator yang mengkhawatirkan bagi ketahanan kota terhadap bencana geologis dan penurunan infrastruktur.

Data singkat dampak krisis

Indikator Perkiraan
Penurunan pasokan air bersih 25%
Laju amblesan tanah 10–20 cm/tahun

Langkah praktis yang disarankan

Pengelola dan peneliti sepakat perubahan perilaku bisa menjadi langkah cepat. Mereka mendorong penggunaan jaringan perpipaan resmi dan praktik hemat di rumah.

  • Matikan keran saat menyikat gigi atau mencuci piring untuk menghemat air.
  • Kurangi pengeboran sumur air tanah pribadi yang dapat mempercepat amblesan.
  • Kelola ulang air limbah sederhana untuk kebutuhan non-pangan, bila memungkinkan.
  • Utamakan kebutuhan esensial dan pantau konsumsi air keluarga.

Perubahan kebiasaan harian dinilai sebagai langkah cepat yang dapat langsung dijalankan masyarakat untuk meringankan tekanan pada sistem pasokan. Upaya jangka panjang tetap diperlukan untuk memulihkan daerah resapan dan memastikan keberlanjutan sumber daya air.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait