Nasional

Berdikari Siapkan 30.000 Ton SBM untuk Peternak Rakyat

Bagikan:
Bungkusan bungkil kedelai siap distribusi untuk pakan peternak rakyat

PT Berdikari menyiapkan 30.000 ton Soybean Meal (SBM) untuk mendukung peternak rakyat sebagai tindak lanjut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Saat ini 5.000 ton pertama telah diakses melalui Koperasi LPER untuk memenuhi kebutuhan anggota dan binaan. Skema ini dituangkan lewat nota kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya menekan biaya pakan dan menjaga keberlanjutan usaha peternak.

Kesepakatan awal dengan LPER dan akses SBM

Pengadaan akses awal dilakukan oleh PT Berdikari bekerja sama dengan Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER). MoU diteken di Jakarta pada 18 Agustus 2026 oleh Direktur Utama PT Berdikari Maryadi dan Ketua Umum Koperasi LPER H. Mulyadi Atma. Penandatanganan juga disaksikan Direktur Operasional PT Berdikari, Agung Aulia, serta jajaran kedua pihak.

Sejumlah koperasi peternak lain juga telah mengajukan kebutuhan SBM ke Berdikari, dan pengajuan-pengajuan itu masih dalam proses verifikasi. Dengan demikian, akses bahan baku pakan berpotensi menjangkau lebih banyak peternak rakyat dalam waktu dekat.

Alasan dan target pengendalian biaya pakan

Langkah ini merupakan tindak lanjut Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional yang dipimpin Menteri Pertanian di Surabaya pada 11 Agustus 2026. Salah satu fokus rapat adalah pengendalian biaya pakan sebagai upaya menjaga kelangsungan usaha peternak rakyat. Pengendalian biaya pakan menjadi kunci agar peternak tetap produktif dan usaha mereka berkelanjutan.

"Kami berkomitmen mengawali dari 5.000 ton ini. Target kami adalah membangun ekosistem peternakan ayam ras yang terintegrasi dan berkeadilan,"
— ujar Agung Aulia terkait langkah awal kerja sama.

Peran koperasi dan konsolidasi kebutuhan

Kementerian Pertanian mendorong pola pengadaan yang lebih terencana dan terkonsolidasi agar bahan baku pakan diperoleh secara lebih efisien. Konsolidasi melalui koperasi diharapkan memperkuat posisi tawar peternak dan mempermudah akses pasokan. Skema ini menempatkan pemerintah sebagai fasilitator, Berdikari sebagai penyedia pasokan, dan koperasi sebagai pengonsolidasi kebutuhan anggota.

"Kami mendorong agar akses peternak terhadap bahan baku pakan semakin mudah dan efisien,"

dan

"Yang kita bangun bukan hanya soal penyaluran bahan baku, tetapi ekosistem pakan,"
— kata Direktur Pakan Kementan Tri Melasari.

Dampak terhadap produksi dan ketersediaan pangan

Dengan biaya pakan yang lebih terkendali, peternak diharapkan mampu mempertahankan produktivitas dan menekan harga pokok produksi telur dan ayam. Ketua Umum Koperasi LPER menyatakan optimisme bahwa jaminan pasokan awal akan membantu menstabilkan biaya produksi. Keberlanjutan produksi telur dan ayam juga menjadi bagian penting dari ketersediaan protein hewani bagi masyarakat.

Pelaksanaan skema ini akan terus dipantau dan diperluas sesuai kebutuhan koperasi dan peternak, sehingga target pemenuhan hingga 30.000 ton SBM dapat terealisasi secara bertahap.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait