Sidang Korupsi Dana BOS di Madrasah Deliserdang, Kerugian Rp268 Juta
MEDAN — Sidang dugaan korupsi pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Madrasah Aliyah Swasta Farhan Syarif Hidayah, Kecamatan Sunggal, Deliserdang, dimulai di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (2/7). Jaksa menuduh bendahara dan dua operator melakukan penyimpangan administrasi yang menyebabkan kerugian negara sebesar Rp268.232.700.
Siapa yang Didakwa dan Apa Tuduhannya
Terdakwa adalah Handriyatul Akhbar (bendahara), serta dua operator BOS, Rino Tasri dan Bambang Ahmadi Karo-karo. Jaksa Penuntut Umum menuduh mereka menyusun laporan pertanggungjawaban fiktif dan memindahkan dana bantuan ke rekening pribadi pihak yayasan.
Modus Operandi Menurut Jaksa
Jaksa menyatakan dana BOS 2022–2024 ditransfer ke rekening sekolah di Bank Mandiri, namun dicairkan lalu ditarik oleh bendahara bersama kepala madrasah dan diserahkan ke pemilik yayasan melalui rekening pribadi. Pemberian dana ke rekening pribadi melanggar petunjuk teknis pengelolaan dana BOS.
Para terdakwa membuat dokumen pertanggungjawaban berupa kwitansi, bon, dan faktur yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Untuk menutupi penggunaan dana, para terdakwa diduga memanfaatkan stempel toko dan penyedia jasa, membuat faktur fiktif, serta mencantumkan foto barang yang diambil dari internet. Jaksa juga menemukan dugaan guru dan tenaga kependidikan fiktif yang dianggarkan honor dari dana BOS.
Data EMIS dan Siswa Fiktif
Penyidik mendapati adanya siswa fiktif yang dimasukkan ke dalam sistem Education Management Information System (EMIS) untuk meningkatkan alokasi dana BOS. Meskipun tidak mengikuti proses belajar mengajar, siswa tersebut disebut tetap memiliki rapor dan memperoleh ijazah.
Rincian Kerugian Negara
Berdasarkan audit Kantor Akuntan Publik, kerugian negara terinci sebagai berikut:
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Pembayaran honor guru fiktif | 41.262.700 |
| Mark up gaji guru | 28.640.000 |
| Klaim dana BOS siswa fiktif | 27.240.000 |
| Pengadaan barang dan jasa fiktif | 144.760.000 |
| Pungutan uang ujian | 9.870.000 |
| Pungutan biaya ekstrakurikuler | 16.400.000 |
| Total | 268.232.700 |
Berdasarkan hasil audit Kantor Akuntan Publik Ribka Aretha & Partners, kerugian negara dalam perkara ini mencapai Rp268.232.700.
Pasal yang Didakwakan dan Proses Selanjutnya
Jaksa menjerat para terdakwa dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, antara lain Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18, subsider Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, serta ketentuan KUHP baru.
Usai pembacaan dakwaan, majelis hakim yang diketuai Hendra Hutabarat menunda sidang dan memberi waktu kepada penasihat hukum untuk mengajukan nota keberatan (eksepsi) pada persidangan pekan depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Jalan di Depan Jembatan Ulee Titi Diperbaiki setelah Viral
Dinas PUPR Aceh memperbaiki jalan depan Jembatan Ulee Titi, Lhoknga, pada 2 Juli setelah keluhan warga tenta...
13 Personel Polres Humbahas Naik Pangkat per 1 Juli 2026
Sebanyak 13 personel Polres Humbahas naik pangkat TMT 1 Juli 2026; upacara dipimpin Kapolres AKBP Adi Nugroh...
Kabar OTT KPK di Binjai: Bupati Langkat Berinisial SY Diduga Ditangkap
Kabar OTT KPK di Binjai: seorang kepala daerah berinisial SY diduga ditangkap saat menagih hutang fee proyek...
MAI Medan Apresiasi Kinerja Polri di Hari Bhayangkara ke-80
MAI Medan memuji kinerja Polri yang adaptif menjaga Kamtibmas dan mendukung program prioritas pemerintah pad...
Labuhanbatu Resmi Bentuk BMPS Periode 2026–2031, Pemerintah Dukung Penuh
Pemerintah Labuhanbatu menyambut pembentukan BMPS 2026–2031; wadah ini diharapkan tingkatkan sinergi dan kua...
Medan: SPBU Digerebek, Kejari Geledah RSUD Pirngadi, Kurir Ganja Dituntut
Polrestabes Medan gerebek SPBU karena dugaan penjualan BBM curang; Kejari geledah RSUD Pirngadi terkait BLUD...