Nasional

Koperasi Nelayan Didorong Perkuat Ekonomi Rakyat Berkelanjutan

Bagikan:
Nelayan dan anggota koperasi berdiskusi di pelabuhan saat meninjau hasil tangkapan

Wakil Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Sugeng Nugroho, menegaskan koperasi harus diperkuat untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional secara berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan peran koperasi dalam penyediaan permodalan, distribusi, dan pemasaran hasil tangkapan. Dorongan ini muncul karena akses fasilitas penting bagi nelayan kecil masih terbatas dan rantai distribusi menyulitkan harga jual yang adil.

Peran strategis koperasi

Sugeng memandang koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam. Koperasi perlu menjadi sokoguru perekonomian yang menyediakan layanan penting bagi nelayan. Dengan pengelolaan yang tepat, koperasi dapat memangkas rantai distribusi sehingga anggota memperoleh harga lebih wajar.

"Koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam. Tetapi juga harus mampu menyediakan BBM, rantai pendingin, alat tangkap, hingga pemasaran hasil tangkapan," ujar Sugeng Nugroho.

Tantangan akses BBM dan fasilitas pendukung

Sugeng menyoroti akses BBM bersubsidi yang masih terkendala persyaratan administrasi. Kondisi ini membuat biaya melaut menjadi beban besar bagi nelayan kecil. Menurutnya, sekitar 60–70 persen biaya melaut digunakan untuk membeli BBM, sehingga solusi suplai BBM menjadi krusial.

"BBM menjadi kebutuhan sangat vital. Karena sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen biaya melaut digunakan untuk membelinya," ujar Sugeng.

Layanan yang perlu disediakan koperasi

Untuk memperkuat peran itu, Sugeng menyarankan koperasi memperluas layanan operasional. Layanan tersebut harus terintegrasi dari hulu sampai hilir agar memberi nilai tambah nyata bagi anggota.

  • Penyediaan BBM dan akses distribusi yang terjangkau
  • Rantai pendingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan
  • Penyediaan alat tangkap dan permodalan bergulir
  • Pemasaran terkoordinasi untuk menembus pasar yang lebih luas

Keanggotaan dan tata kelola

Sugeng menekankan pentingnya memperkuat keanggotaan sebelum menghimpun modal. Menurutnya, pendekatan yang terlalu top-down dapat mengaburkan semangat gotong royong dan mengurangi peran anggota dalam menentukan kebutuhan bersama. Prinsip koperasi, kata dia, adalah mengumpulkan orang terlebih dahulu, bukan sekadar kapital.

Kampung Nelayan Merah Putih dan langkah ke depan

Sugeng menyambut konsep Kampung Nelayan Merah Putih sebagai gagasan yang mengintegrasikan sektor hulu-hilir. Namun ia menilai pelaksanaannya masih memerlukan pembenahan agar manfaatnya merata bagi semua nelayan sesuai tujuan awal program. Ia juga mengajak generasi muda, pelaku UMKM, dan masyarakat pesisir bergabung membangun koperasi profesional.

Penutup: Dengan tata kelola yang jujur, transparan, dan berpihak kepada anggota, koperasi berpotensi menjadi kekuatan ekonomi masa depan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait