BPBD Sumut: Karhutla di Samosir Terus Terjadi Setiap Tahun
MEDAN — Kabupaten Samosir kembali dicatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara sebagai wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang setiap tahun, dengan luasan minimal 5 hektare per kejadian. Pernyataan ini disampaikan Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, saat konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Jumat (5/9).
Pola berulang dan dugaan penyebab
Tuahta menegaskan bahwa kebakaran di Samosir bukan insiden satu kali, melainkan pola yang terulang setiap tahun. Menurutnya, luas terbakar di wilayah itu selalu mencapai setidaknya 5 hektare setiap tahunnya. Ia menduga kebiasaan dan persepsi masyarakat setempat berperan besar dalam berulangnya kejadian.
"Karhutla berulang sebagaimana saya sampaikan tadi, memang ini selalu berulang, Samosir itu tiap tahun kejadian itu, ya minimal 5 hektare kebakar di sana itu setiap tahun,"
Fokus pada edukasi dan komunikasi kebencanaan
BPBD Sumut tidak serta-merta menyalahkan masyarakat. Tuahta justru menekankan perlunya penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada warga dan aparat di tingkat kecamatan, desa, serta kelurahan. Targetnya adalah mencetak agen-agen kebencanaan yang dapat menyebarkan pengetahuan pencegahan di komunitas mereka sendiri.
"Nanti masyarakat yang sudah menjadi agen-agen kebencanaan itulah yang menyampaikan kepada masyarakat lainnya, karena yang kami tujukan edukasi itu juga kepada aparat pemerintah,"
Penanganan lapangan: pendampingan, bukan peran utama
Dalam operasi di lapangan, BPBD Sumut menempatkan personel dan peralatan untuk mendampingi BPBD Kabupaten Samosir. Tuahta menegaskan bahwa pihak provinsi bertindak sebagai pendukung, bukan sebagai pelaksana utama pemadaman.
"Kita bukan pemain utama, kita mendampingi BPBD Samosir untuk melaksanakan pemadaman karhutla di Samosir. Alhamdulillah sudah 2 minggu, baru semalam turun hujan,"
Peralihan sumber daya ke wilayah terdampak erupsi
Seiring mulai turunnya hujan di Samosir, BPBD Sumut mempertimbangkan untuk menarik sebagian personel dari lokasi dan menggeser fokus penanganan ke wilayah yang terdampak erupsi Gunung Sinabung. Keputusan ini bergantung pada perkembangan cuaca dan evaluasi situasi di lapangan.
Konsekuensi dan langkah ke depan
Masuknya Samosir ke daftar fokus KIE BPBD Sumut juga terkait ancaman bencana lain, termasuk potensi banjir bandang. Penguatan peran aparat di tingkat lokal dan pembentukan agen kebencanaan dipandang perlu untuk mengubah pola kebiasaan yang memicu karhutla.
Langkah selanjutnya mencakup pelatihan bagi aparat desa dan kelurahan, penempatan alat pemadaman sebagai dukungan, serta kampanye berkelanjutan untuk mengubah praktik di tingkat masyarakat. Pemantauan kondisi cuaca dan kesiagaan teknis tetap menjadi faktor kunci dalam mengatur alokasi sumber daya provinsi ke daerah terdampak lain seperti Sinabung.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Wapres Gibran Tinjau Hunian Tetap dan Infrastruktur di Tapanuli
Wapres Gibran melakukan kunjungan kerja ke Tapanuli pada Jumat (4/9) untuk meninjau hunian tetap dan sejumla...
Polda Sumut Tangkap 2 Tersangka Penipuan Online Modus Bonus Deposit
Dit Siber Polda Sumut menangkap dua tersangka penipuan online yang menjanjikan bonus setelah korban melakuka...
Sinabung Berstatus Siaga Level 3, 650 Warga Dievakuasi di Karo
Gunung Sinabung ditetapkan Siaga Level 3; 208 KK (650 jiwa) telah dievakuasi dan ada potensi 2.051 orang aka...
46 Kejadian Karhutla di Sumut hingga 4 Sept 2026, Luas 273,87 Ha
BPBD Sumut melaporkan 46 kejadian karhutla hingga 4 Sept 2026, total 273,87 ha terbakar, dengan Labuhan Batu...
Cinta kepada Rasul: Ittiba' sebagai Bukti dan Ukuran Takwa
Prof. Syabuddin Gade: cinta kepada Rasul harus dibuktikan dengan ittiba', bukan sekadar shalawat atau simbol...
Kemenag Salurkan Rp11,628 Miliar untuk 306 Masjid dan Musala di Aceh
Kemenag menyalurkan Rp11,628 miliar tahap II untuk 306 masjid/mushala di Aceh, masing-masing mendapat Rp38 j...