Cinta kepada Rasul: Ittiba' sebagai Bukti dan Ukuran Takwa
Aceh Besar, Jumat (4/9/2026) — Prof. Dr. Tgk. H. Syabuddin Gade, M.Ag., Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menyampaikan khutbah Jumat bahwa cinta kepada Rasul bukan sekadar kekaguman atau rutinitas shalawat. Ia menegaskan cinta tersebut harus nyata dalam penghormatan, ketaatan, dan upaya mengikuti sunnah serta akhlak Nabi Muhammad saw.
Inti khutbah
Prof. Syabuddin mengutip firman Allah bahwa jika benar mencintai Allah, maka mengikuti Rasul adalah jalan untuk mendapat kasih sayang dan ampunan. Menurutnya, cinta yang hanya sebatas ucapan tanpa perubahan perilaku tidak mencerminkan pengamalan yang benar.
"Jadi, cinta Rasul bukan sekadar emosi keagamaan, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong kita untuk memperbaiki diri,"
Mengapa cinta kepada Rasul penting
Dia merinci tiga alasan utama mengapa kecintaan itu krusial bagi kaum Muslim.
- Rasul sebagai utusan Allah yang membawa petunjuk, yang menjelaskan cara beribadah dan hukum halal-haram.
- Rasul sebagai teladan terbaik dalam semua peran: pemimpin, suami, ayah, tetangga, sahabat, pedagang, dan pendidik.
- Mencintai Rasul adalah bagian dari kesempurnaan iman menurut hadits yang menyatakan Rasul harus dicintai melebihi orang tua dan anak.
Bentuk kecintaan dan praktik di masyarakat
Prof. Syabuddin menjelaskan kecintaan umat pada Rasul melahirkan berbagai tradisi ibadah dan kajian. Di Indonesia ada banyak bentuk yang mengekspresikan kecintaan tersebut.
- Pembacaan shalawat dan majelis maulid.
- Pengajian sirah dan kajian hadis untuk meneladani akhlak Nabi.
- Kegiatan lokal seperti "kenduri dan ceramah maulud" yang berlangsung di beberapa daerah, termasuk Aceh.
Namun ia memperingatkan agar kecintaan tidak berhenti pada simbol dan ritual semata, melainkan harus menjadi dorongan untuk berittiba' (mengikuti sunnah) dalam kehidupan sehari-hari.
Ukuran keberhasilan cinta kepada Rasul
Prof. Syabuddin menawarkan tolok ukur praktis: sejauh mana cinta itu mengubah kualitas perilaku dan hubungan sosial umat.
- Apakah shalat menjadi lebih khusyuk dan teratur?
- Apakah kejujuran, amanah, dan kesabaran meningkat dalam kehidupan sehari-hari?
- Apakah hubungan keluarga dan kepedulian kepada sesama menjadi lebih harmonis?
- Apakah kita mampu menahan amarah dan menjauhi maksiat?
"Cinta Rasul adalah energi spiritual, ittiba' adalah pembuktiannya, akhlak adalah manifestasinya, dan takwa adalah salah satu buah terpenting dari cinta Rasulullah saw,"
Ia mengajak umat menjadikan cinta kepada Rasul bukan sekadar slogan, melainkan sumber motivasi untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Nias Selatan Serahkan SK Perpanjangan 633 PPPK Paruh Waktu
Pemkab Nias Selatan menyerahkan SK perpanjangan dan SPK kepada 633 PPPK Paruh Waktu pada 19 Oktober sebagai...
Polda Sumut Tangkap 3 Terduga Pelaku Penembakan di Tanjung Morawa
Polda Sumut menangkap tiga terduga pelaku penembakan di Tanjung Morawa pada 19 Oktober; motif masih didalami...
Pemkab Asahan Selesaikan Audit BPK, Raih Peringkat Tiga Realisasi Belanja
Pemkab Asahan menyelesaikan audit BPK Sumut (19/10) dan meraih peringkat tiga realisasi belanja daerah; exit...
Belanja P-APBD Sumut 2026 Melebihi Pendapatan, DPRD Dorong Pinjaman
Belanja P-APBD Sumut 2026 melebihi pendapatan Rp382 miliar; DPRD mendorong pinjaman dan obligasi untuk menut...
Satgas PRR Kirim 18 Alat Berat untuk Pengerukan Sungai di Aceh Tenggara
Satgas PRR Kemendagri menurunkan 18 alat berat dan 8 dump truk untuk pengerukan sungai di Aceh Tenggara, ope...
Orangutan Sumatera Dipulangkan dari India ke Kualanamu
Orangutan Sumatera hasil repatriasi dari India tiba di Bandara Kualanamu dan dibawa ke SRA Langkat untuk men...