Nasional

Karhutla Riau Turun: Dari 16.277 Ha Kini Tersisa 900 Ha

Bagikan:
Tim pemadam kebakaran bergerak memadamkan titik api di Riau

BPBD Riau melaporkan total lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Januari–Agustus 2026 mencapai 16.277 hektare, namun per 24 Agustus luas yang masih dalam penanganan tinggal sekitar 900 hektare. Informasi itu disampaikan saat rapat koordinasi penanganan karhutla di Posko Aju Lanud TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Status terbaru dan sebaran titik api

Kepala BPBD Riau, Edy Afrizal, mengatakan sebagian besar area yang terbakar sejak awal tahun telah berhasil dipadamkan. Saat ini masih terdapat tujuh titik api yang tersebar di empat kabupaten.

"Jadi dari 16.000 hektare yang terbakar sekarang tinggal 900?" tanya Presiden. "900, siap," jawab Edy Afrizal.

Lokasi kebakaran terbesar

Dari tujuh titik api yang masih ditangani, kebakaran terbesar berada di Kabupaten Pelalawan, tepatnya wilayah Kerumutan, dengan luasan sekitar 700 hektare. Di Rimbau Panjang, Kabupaten Kampar, luas yang terbakar dilaporkan sekitar 10 hektare. Lokasi lain belum dilaporkan luas detailnya.

Upaya pemadaman dan pencegahan

Pemerintah pusat dan daerah telah mengerahkan berbagai metode untuk mengendalikan api dan mencegah meluasnya karhutla. Upaya yang ditempuh meliputi:

  • Pemadaman darat dan patroli intensif
  • Water bombing
  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk penambahan curah hujan terarah
  • Pembangunan sumber air dan sekat (firebreak) di area rawan

Hingga 23 Agustus, satelit menunjukkan ada 306 titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Riau, sehingga pemerintah diminta terus siaga guna mencegah pemicu kebakaran kembali menjadi besar.

Arahan Presiden dan tindak lanjut

"Saya kira cukup bagus itu, saya apresiasi, terima kasih," kata Presiden Prabowo saat memberi penghargaan terhadap upaya penanganan. Presiden juga mengingatkan agar kewaspadaan tidak kendur dan perintah agar tujuh titik api yang tersisa segera ditangani agar tidak meluas.

Presiden menekankan pentingnya tindakan dini saat terdeteksi titik panas. "Jangan nunggu sampai jadi titik api. Segera saja masuk, ambil tindakan dini," ujarnya, menegaskan strategi pencegahan lebih efektif ketimbang penanganan setelah api menyala besar.

Pemerintah daerah bersama unsur TNI-Polri dan masyarakat setempat diperkirakan akan melanjutkan patroli, pemadaman, serta pencegahan aktif sampai kondisi benar-benar terkendali. Pemantauan satelit dan peningkatan akses air menjadi prioritas untuk minggu-minggu mendatang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait