Karhutla Riau: 41,8 Juta Liter Air Diguyurkan sejak Maret 2026
Sejak Maret 2026, pemerintah Provinsi Riau telah menggunakan air sebanyak 41.896.000 liter untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Angka itu disampaikan Kepala BPBD Riau, Edy Afrizal, dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Posko Aju, Pekanbaru, Senin, 24 Agustus 2026. Upaya ini bertujuan membasahi lahan gambut dan memutus jalur api agar kebakaran tidak meluas.
Jumlah air dan alat yang dikerahkan
Edy melaporkan ada lima helikopter water bombing yang dikerahkan untuk membantu pemadaman dan pembasahan lahan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau tim darat. Selain itu, operasi dilakukan secara terpadu antara patroli darat dan dukungan udara.
- Lima helikopter water bombing untuk pemadaman udara
- Pembasahan lahan gambut dengan penyiraman intensif
- Pembuatan sekat kanal dan sekat bakar untuk membatasi pergerakan api
Strategi penanganan lahan gambut
Penanganan karhutla di Riau menyesuaikan karakteristik lahan gambut yang berbeda dibandingkan tahun lalu. Pemerintah menekankan pembasahan tanah agar kelembapan cukup untuk menahan api yang menggerus bahan organik.
"Kadar tanah yang ada di wilayah Riau ini, tidak seperti yang tahun lalu, kita basahi sehingga cukup air untuk di dalam tanah. Kemudian pemadaman di tempat-tempat yang tidak terjangkau pasukan darat, kita menggunakan helikopter untuk memutus jalur agar kebakarannya tidak meluas,"
Kebijakan membuat sekat kanal dan sekat bakar juga diberlakukan untuk menghambat penyebaran api di area gambut yang rentan.
Operasi Modifikasi Cuaca dan deteksi dini hotspot
Selain pemadaman langsung, pemerintah daerah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk merangsang hujan dan membasahi lahan gambut yang kering. Menurut Edy, OMC terbukti efektif setiap kali ada potensi awan.
"Nah ini sangat efektif, Pak Presiden, begitu ada awan, kita langsung modifikasi. Alhamdulillah turun hujan ini untuk membasah lahan gambut yang kering, sehingga tidak mudah terbakar,"
Presiden meminta seluruh sumber daya digunakan maksimal untuk mempercepat pemadaman tujuh titik api yang masih aktif dan mencegah munculnya titik baru melalui deteksi dini hotspot.
"Tolong masuk ke titik hotspot itu, segera saja masuk, ambil tindakan dini. Di tempat-tempat itu bisa dibikin bor air,"
Penanganan berfokus pada aksi cepat di lokasi hotspot dan penguatan langkah pencegahan, termasuk penyiraman, pembuatan sekat, serta pemanfaatan OMC untuk mengurangi risiko kebakaran berulang. Upaya ini akan terus dilanjutkan hingga seluruh titik api terpantau aman.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...