Nasional

WWB dan KP2MI Kaji Dampak Remitansi PMI untuk Ekonomi

Bagikan:
FGD WWB dan KP2MI membahas remitansi pekerja migran di Jakarta

Women’s World Banking (WWB) bekerja sama dengan KP2MI untuk mengkaji dampak remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI) terhadap ekonomi keluarga dan daerah. Kerja sama itu resmi ditandatangani di Jakarta pada Kamis, 17 September 2026, dan diawali Focus Group Discussion (FGD) untuk merancang Indonesia Remittance Development Index (IRDI).

Jumlah remitansi dan pola pemanfaatan

Bank Indonesia mencatat remitansi PMI mencapai Rp288,1 triliun sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan aliran dana luar negeri berperan besar bagi kehidupan keluarga PMI di dalam negeri.

Namun sebagian besar remitansi masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatan untuk kegiatan produktif masih terbatas, sehingga potensi dampak ekonomi jangka panjang perlu dikaji lebih dalam.

Focus Group Discussion dan peserta

FGD yang membuka kerja sama mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Diskusi membahas indikator yang relevan, ketersediaan data, dan manfaat remitansi yang ideal.

  • Sektor jasa keuangan
  • Pemerintah pusat dan daerah
  • Mitra pembangunan dan organisasi internasional
  • Organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset

Tujuan kajian dan rekomendasi kebijakan

Dirjen Pemberdayaan KP2MI, Muh. Fachri, menyatakan kajian akan menelaah dampak remitansi dari tingkat keluarga hingga nasional. Hasilnya diharapkan memberi rekomendasi kebijakan bagi KP2MI dan pemangku kepentingan lain.

“Sampai akhir tahun, kita sudah akan mendapatkan kajian, tapi ini baru riset awal tentu akan ada riset-riset lanjutan. Misalnya ke depan perlu melakukan studi komparatif antara desa kantong PMI dengan desa yang bukan kantong PMI,”

Fachri menargetkan kajian awal selesai hingga akhir 2026 dan menjadi dasar riset lanjutan. Salah satu rencana lanjutan adalah studi komparatif untuk melihat perbedaan perilaku ekonomi dan perkembangan daya beli di desa kantong PMI versus non-kantong.

“Bagaimana perilaku ekonomi, bagaimana perkembangan daya beli di kedua desa ini. Ini juga perlu kita rilis kepada masyarakat,”

Contoh praktik di desa dan program pemberdayaan

Contoh penerapan pemanfaatan remitansi tercatat di Desa Bumi Daya, Lampung. Desa ini mencatat nominal remitansi dan memberi edukasi kepada penerima agar dana dipakai lebih produktif.

Fachri menyebut program Desa Migran Emas mendorong pelindungan dan pemberdayaan lewat pendekatan lintas sektor. Program mencakup edukasi ekonomi, hukum, dan sosial di tingkat desa.

Peran literasi dan kolaborasi

Angelique Timmer, Direktur Regional Asia Tenggara WWB, menilai kolaborasi lintas sektor penting untuk mengukur dampak remitansi. Menurutnya, kajian harus melihat bukan hanya nilai remitansi, tetapi efeknya pada pengusaha, desa, dan keluarga.

“Kami percaya bahwa kita semua sebenarnya bisa menciptakan indeks yang merupakan sinyal bagaimana remitansi memberikan keberanian dalam ekonomi. Lebih banyak peluang pekerjaan ke keluarga yang meninggalkan Indonesia,”

Angelique juga menekankan literasi keuangan disertai solusi konkret. Ia mendorong bank, sektor swasta, dan pemerintah memberi pekerja migran kontrol lebih baik atas penghasilan mereka, termasuk opsi investasi saat pulang.

Dengan data dan indikator yang lebih tajam, kajian ini diharapkan menghasilkan kebijakan yang memperkuat pendayagunaan remitansi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga PMI dan perkembangan ekonomi daerah asal.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait