Jargas Hemat Rp600–900 Ribu/Tahun, Target 1,45 Juta Sambungan
Pemerintah menyatakan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga (Jargas) dapat menghemat pengeluaran keluarga antara Rp600 ribu hingga Rp900 ribu per tahun. Pernyataan itu disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari pada konferensi pers di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Potensi penghematan biaya
Menurut perhitungan pemerintah, Jargas mampu memangkas biaya belanja energi rumah tangga sekitar Rp50-Rp80 ribu per bulan. Angka itu didasarkan pada asumsi konsumsi tiga tabung LPG tiga kilogram setiap bulan.
"Dengan asumsi konsumsi tiga tabung LPG tiga kilogram per bulan. Rumah tangga dapat menghemat Rp600 ribu hingga Rp900 ribu per tahun,"
Penghematan diperoleh karena pelanggan tidak lagi membeli tabung LPG secara berkala. Selain itu, harga gas melalui jaringan dinilai lebih stabil dibandingkan LPG tabung di tingkat pengecer.
Keamanan dan kenyamanan penggunaan
Pemerintah menegaskan Jargas memenuhi standar keselamatan yang berlaku. Pengoperasian jaringan didukung pengujian kebocoran, pemeriksaan teknis, dan pemeliharaan berkala untuk menekan risiko operasional.
"Gas tersedia melalui pipa sehingga pelanggan tidak perlu lagi membeli, mengangkat, atau mengganti tabung,"
Dengan pasokan lewat pipa, akses menjadi lebih praktis dan mengurangi risiko kelangkaan LPG di pengecer. Sistem ini juga mengurangi beban fisik dan logistik bagi rumah tangga pengguna.
Target pembangunan dan konteks kebijakan
Pemerintah menargetkan pembangunan Jargas mencapai 1,45 juta sambungan rumah hingga 2029. Program ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan dikoordinasikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Jargas merupakan langkah strategis pemerintah untuk membuat pasokan energi Indonesia lebih mandiri dan stabil,"
Menurut Qodari, pengembangan Jargas juga bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Implikasi bagi rumah tangga dan kebijakan energi
Peralihan ke Jargas berpotensi menurunkan beban pengeluaran rumah tangga dan memperbaiki kestabilan pasokan energi. Namun, pencapaian target sambungan bergantung pada realisasi investasi, kesiapan jaringan distribusi, dan koordinasi antar-institusi terkait.
Pelaksanaan program ke depan akan menjadi indikator awal keberhasilan kebijakan energi bersih dan kemandirian pasokan bagi masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Percepat Pembangunan Jargas untuk Kurangi Impor LPG
Pemerintah percepat pembangunan Jargas untuk mengurangi impor LPG dan tingkatkan kemandirian energi melalui...
Sejarah PPKI: Peran Kunci Menyiapkan Pemerintahan Indonesia
PPKI dibentuk 7 Agustus 1945 untuk merumuskan UUD 1945, menetapkan Pancasila, dan menyusun pemerintahan pasc...
BMKG: Daerah Awas Kekeringan Parah Awal Agustus 2026
BMKG peringatkan DIY, NTB, dan NTT berstatus awas kekeringan pada 1–10 Agustus 2026; masyarakat diminta hema...
Yusuf Ronodipuro: Penyiar Pertama yang Menyiarkan Proklamasi RI
Yusuf Ronodipuro adalah penyiar yang pertama menyiarkan Proklamasi RI lewat radio pada 17 Agustus 1945, mesk...
Kementan Percepat Pompanisasi Jaga Ketahanan Pangan 2026
Kementan percepat distribusi 56 ribu unit pompa pada 2026 untuk jaga pasokan air sawah menghadapi potensi El...
Soeara Asia & Tjahaya: Media Pertama Beritakan Proklamasi
Soeara Asia (Surabaya) dan Tjahaya (Bandung) memuat berita Proklamasi pada 18 Agustus 1945, cepat menyebarka...