Antisipasi Kemarau, Petani Diminta Susun Jadwal Tanam
Petani diimbau menyusun jadwal tanam lebih awal untuk mengantisipasi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering tahun ini. Imbauan datang dari organisasi petani dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun menjelang puncak kemarau pada Agustus–September.
Perencanaan berbasis data cuaca
Anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim, Tarsono, menekankan pentingnya mitigasi sejak awal musim tanam. Ia mengatakan pengumpulan data curah hujan menjadi langkah awal untuk menentukan strategi bercocok tanam.
Petani ini sudah dibiasakan untuk antisipasi musim kemarau beberapa bulan ke depan. Kadang-kadang adaptif, maka kita sebagai petani peneliti ini sudah dibiasakan untuk antisipasi tersebut,
Menurut Tarsono, prediksi iklim harus dipadukan dengan kondisi lokal agar keputusan tanam lebih tepat. Data ilmiah yang dikombinasikan dengan pengetahuan tradisional membantu memperkirakan kebutuhan air dan risiko serangan hama.
Musyawarah desa dan koordinasi pengairan
Di tingkat lapangan, penyusunan jadwal tanam dilakukan melalui musyawarah desa. Forum ini menjadi ruang bagi petani, pengairan, dan pihak teknis untuk menyepakati waktu tanam berdasarkan ketersediaan air dan kondisi lahan.
Tarsono menjelaskan, keterlibatan pengelola irigasi penting untuk mengetahui cadangan air sehingga pola tanam bisa disesuaikan.
Sebelum tanam itu, kita musyawarah desa, artinya untuk menentukan jadwal tanam. Untuk menentukan jadwal tanam ada beberapa komponen yang perlu ditempuh,
Percepatan tanam di Kota Madiun
DKPP Kota Madiun mendorong petani mempercepat masa tanam, terutama selepas panen, untuk memanfaatkan ketersediaan air saat ini. Kepala Bidang Pertanian DKPP Kota Madiun, Niken Febrianti, menyatakan percepatan ini bertujuan mengurangi risiko gagal panen saat kemarau puncak tiba.
Jika waktu tanam tepat, saat musim kemarau datang tanaman sudah memasuki masa panen. Sehingga dampaknya bisa diminimalkan,
DKPP memprediksi puncak kemarau pada Agustus hingga September, sehingga percepatan tanam dinilai strategi praktis untuk menjaga produksi.
Langkah praktis untuk petani
- Kumpulkan dan analisis data curah hujan lokal sebelum menyusun jadwal tanam.
- Adakan musyawarah desa melibatkan pengairan dan aparat teknis.
- Padukan prediksi iklim dengan pengetahuan musim tradisional dan pemantauan hama.
- Percepat masa tanam setelah panen untuk memanfaatkan ketersediaan air yang ada.
Dengan kombinasi data ilmiah, koordinasi lokal, dan percepatan tanam, petani diharapkan lebih siap menghadapi potensi kemarau panjang. Langkah-langkah ini juga menjadi bagian penting menjaga ketahanan pangan setempat saat cuaca ekstrem meningkat.
Berita Terkait
Rp236 Miliar untuk Sumatra: Proyek LEVERAGE Prioritaskan Konservasi Hutan
Proyek LEVERAGE senilai US$14,4 juta (Rp236 miliar) prioritaskan Sumatra untuk penguatan pengawasan, penegak...
APDESI Dorong Desa Jadi Motor Ekonomi dan Ketahanan Pangan
APDESI Merah Putih dorong desa jadi motor ekonomi dan benteng ketahanan pangan, dibahas dalam Rakernas 2026...
Beacon Academy Galang Rp40 Juta untuk Difabel Lewat Walkathon
Siswa Beacon Academy kumpulkan Rp40 juta lewat Walkathon untuk 20 kaki palsu bagi penyandang disabilitas, ba...
KPK Perluas JNBA ke Indonesia Timur, Sasar Pelajar dan Komunitas
KPK membawa program JNBA ke NTB dan NTT pada 2026, menyasar pelajar, komunitas lokal, dan UMKM untuk memperk...
Kompolnas-Polri Percepat Reformasi Lewat Rakorwas 2026
Kompolnas dan Polri memperkuat sinergi pengawasan lewat Rakorwas 2026 di Jakarta untuk percepat reformasi ke...
Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Krui, Lampung
Presiden Prabowo meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Krui pada 10 Juni 2026 setelah rumah sakit ditingkatk...