Aktivis: P3-TGAI Belum Selesaikan Masalah Irigasi di Aceh Tenggara
ACEH TENGGARA — Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang digulirkan di Aceh Tenggara pada 2026 masih dipertanyakan efektivitasnya. Aktivis dan mahasiswa setempat menyatakan proyek belum menyasar seluruh lahan persawahan yang membutuhkan, khususnya di Kecamatan Bukit Tusam dan Semadam. Sementara itu, pemerintah daerah dan penyelenggara program menyebut ada 247 titik yang menerima bantuan tahun ini.
Keluhan mahasiswa dan temuan lapangan
Bulkainisyah, aktivis mahasiswa dari Universitas Gunung Leuser Aceh, mengatakan hasil penelitian setahun terakhir menunjukkan masih banyak lahan tanpa jaringan irigasi memadai. Menurutnya, sejumlah petani tetap mengalami kekurangan pasokan air meski program sudah berjalan.
"Belum dapat menyelesaikan persoalan tata guna air irigasi di Aceh Tenggara. Artinya, masih banyak ditemui lahan persawahan yang membutuhkan pembangunan sarana bangunan tersebut,"
Dia menekankan titik-titik kritis berada di Bukit Tusam dan Semadam, yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah dan pusat. Penilaian itu diperoleh saat melakukan penelitian lapangan selama setahun.
Jumlah lokasi dan sumber usulan
Pihak pelaksana menyatakan program P3-TGAI di Aceh Tenggara pada 2026 menargetkan 247 lokasi penerima manfaat. Dana dan proyek pembangunan jaringan tersebut merupakan serapan aspirasi anggota Komisi V DPR RI Dapil I Aceh.
Menurut PPK OP Sda-II BWS Sumatera-I Aceh, Syafrepi Hasibuan, usulan proyek datang dari beberapa partai politik yang menyampaikan aspirasi melalui rumah aspirasi anggota dewan.
"Ada 247 lokasi penerima manfaat di Aceh Tenggara tahun ini, merupakan usulan dari Golkar, PKS, PKB, PDIP, Gerindra dan Demokrat,"
Partai politik yang terlibat dalam pengusulan antara lain:
- Golkar
- PKS
- PKB
- PDIP
- Gerindra
- Demokrat
Tantangan dan implikasi
Meskipun alokasi untuk ratusan titik sudah ada, pertanyaan utama tetap pada pemerataan lokasi dan prioritas kebutuhan petani. Aktivis menilai proses perencanaan dan penentuan sasaran perlu lebih transparan agar titik-titik kritis tercover penuh.
Selain aspek teknis pembangunan, perlu koordinasi lintas pemerintahan untuk memastikan operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi berkelanjutan. Tanpa langkah lanjutan itu, manfaat proyek berisiko tidak maksimal bagi peningkatan produksi pertanian lokal.
Ke depan, pemantauan independent dan data lapangan yang terverifikasi akan menjadi kunci memastikan program benar-benar menjawab kebutuhan petani di Aceh Tenggara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPRD Medan Serahkan Pemandangan Umum atas Ranperda APBD 2027
Wali Kota Rico Waas hadiri Paripurna DPRD Medan saat fraksi-fraksi memberi catatan dan meminta penjelasan Ra...
Kelangkaan BBM dan Antrean Panjang di Riau hingga Padanglawas
Pitra Romadoni soroti antrean panjang dan kelangkaan BBM dari Riau hingga Padanglawas, mendesak evaluasi dis...
Polres Langsa Tangkap Pelaku Pencurian ECU Daihatsu Grand Max
SS (39) ditangkap di Langsa terkait pencurian ECU Daihatsu Grand Max di sembilan lokasi; polisi mengamankan...
Proyek Strategis Padanglawas Terancam Molor, Beberapa Belum Rampung
Beberapa proyek strategis Padanglawas diperkirakan tidak selesai sesuai kontrak 2026; banyak paket baru menc...
Kapolres Binjai dan Langkat Beri Kejutan HUT TNI ke-81
Kapolres Binjai dan Kapolres Langkat mengunjungi Kodim dan batalyon untuk memberi kejutan dan memperkuat sin...
Bupati Muharram Pimpin Rapat OPD Aceh Besar untuk Perkuat Koordinasi
Bupati Muharram Idris pimpin rapat OPD Aceh Besar pada 5 Oktober 2026 untuk perkuat koordinasi, evaluasi pro...